• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

Suatu hari ada seorang perempuan yang bercerita di sosial media mengenai pengalamannya dilecehkan oleh laki-laki. Selama ini ia memendam pengalaman itu sendiri karena berpikir bahwa mendapatkan sexual harassment adalah sebuah aib yang memalukan. Tetapi melihat bagaimana pola pikir society yang terus berkembang, akhirnya ia memutuskan untuk speak up terkait pengalaman tersebut di sosial media. Dengan harapan, ia akan memperoleh dukungan moral dan sebuah validasi akan perasaan-perasaannya yang berkecamuk setelah mendapatkan pelecehan. Untung-untung kalau akhirnya ia juga bisa memidanakan si pelaku.

Ternyata, instead of mendapatkan dukungan dan validasi, yang dia peroleh justru hujatan dari netizen. Boro-boro memidanakan pelaku, sekadar kenyamanan untuk bercerita aja dia gak punya. Kata netizen "salahmu lah, pake baju kok yang mengundang syahwat orang" atau "makanya pake jilbab dong. itu tuh gara-gara kamu gak pake jilbab. dalam islam perempuan dewasa kan wajib pake jilbab." Selalu. Pada akhirnya orang-orang melakukan victim blaming dan menggunakan argumen agama untuk menyalahkan si korban.

 


Di lain kasus, seorang influencer yang tadinya berjilbab akhirnya memutuskan untuk melepas jilbab tersebut. Reaksi netizen seperti biasa; mereka bertindak sebagai polisi moral. Sibuk berkomentar yang tidak baik. Menyalahkan keputusan si influencer. Menceramahi influencer dengan dalil-dalil agama. Mengatakan bahwa sebagai orang islam yang baik, berjilbab itu adalah sebuah kewajiban. 

Gak salah. Jilbab dalam islam adalah kewajiban yang harus dilaksanakan bagi kaum perempuan. Masalahnya, kenapa persoalan jilbab aja bisa menjadi sesuatu yang besar. Seakan-akan ketika seorang perempuan memutuskan untuk menanggalkan jilbabnya itu berdosa sekali. Kenapa kemudian orang-orang yang bahkan gak pernah bersinggungan langsung dengan influencer tersebut merasa berhak menyampaikan kekecewaannya, keresahannya hanya karena ia melepas jilbabnya. 

Ketika ditanya hal tersebut, argumen mereka adalah "ya kan sesama saudara muslim, kita harus saling mengingatkan. kita harus saling menasihati. sedih dong sesama muslim tapi kita biarkan dia bertindak di luar akidah yang ada?"

My follow up question, apakah orang-orang ini memiliki kapasitas mental yang sama ketika melihat sesama saudara muslimnya korupsi? Merendahkan perempuan? Melecehkan orang lain? Menghina orang lain? Menyakiti binatang? Merusak alam? Belum tentu.

Ironisnya, fenomena-fenomena itu sangat umum terjadi; baik yang terekspos maupun yang tersembunyi.

Narasi yang digaungkan setiap kali perempuan-perempuan mengalami perlakuan tidak senonoh adalah narasi agama. Seolah-olah mereka dilecehkan sebab belum menjadi muslimah yang baik. Mereka disalahkan hanya karena belum memenuhi salah satu kewajiban sebagai muslim. Perempuan selalu dilihat dari tingkat ke-religius-annya dalam beragama. Sementara si laki-laki, yang mana dalam hal ini berperan sebagai pelaku tidak dipandang demikian. Pelaku cenderung dilihat sebagai sosok manusia yang punya hak untuk melakukan apa saja. Biasanya, pembelaan yang diterima oleh si pelaku adalah "ya dia kan berhak untuk ngapain aja" atau "ya kucing kalo dikasih ikan mana bisa nolak. wajar lah." 

Gak pernah ada argumen yang menyalahkan pelaku seperti "ya salah elu lah kaga nundukin pandangan. ada cewe lewat ya nundukin pandangan biar gak nafsu." Padahal kalau mau berbicara dalam konteks agama, kalimat itu bisa menjadi counter attack argumen "makanya pake jilbab biar ga dilecehin cowok." Dan itu adalah hal paling logis yang harusnya dilakukan laki-laki manapun. Kayak, kalau selama ini society selalu menuntut tanggung jawab keberagamaan yang baik pada perempuan dengan selalu menekan mereka untuk menjaga perilaku, memakai jilbab dan lain sebagainya. Kenapa laki-laki gak dituntut hal yang sama dengan menyuruh mereka untuk menjaga pandangannya? Padahal baik laki-laki maupun perempuan; kalau mereka sama-sama memeluk suatu agama ya berarti mereka sama-sama punya tanggung jawab untuk menjadi seorang muslim/muslimah yang baik (kalau konteksnya agama islam) 

Kenapa lalu hanya perempuan yang dituntut untuk menjadi muslim yang baik? Padahal beban beragama itu bukan untuk perempuan aja. Jangan lupa beban beragama itu diperuntukkan bagi semua pemeluknya.



 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dari pesatnya kemajuan teknologi saat ini, sejujurnya ada banyak banget hal yang aku takutkan akan terjadi. Ini bukan soal bagaimana orang-orang lantas memanfaatkan teknologi untuk hal-hal kurang baik aja. Lebih dari itu, ada banyak dampak negatif yang tanpa disadari perlahan-lahan merusak orang-orang secara mental dan fisik, yang bahkan awalnya mereka sendiri gak menyadari kalau hal-hal ini membawa dampak negatif karena hal tersebut sudah dinormalisasi di society. 


 

Karena teknologi, kita jadi berada di situasi serba mudah. Utamanya dalam urusan komunikasi. Saking mudahnya, kita bahkan bisa tau apa yang sedang dikerjakan orang lain secara real time; mereka sedang berada di mana, sedang bersama siapa. Semua itu mudah aja untuk kita tau bahkan tanpa kita mencari tau. Kemudahan ini tentunya sangat menguntungkan untuk pihak-pihak tertentu. Contohnya, fenomena selebriti di sosial media; bagaimana publik melihat mereka sebagai public figure yang meng-influence dan bagaimana industri melihat mereka sebagai partner untuk menaikkan flow perusahaan mereka.

Keberadaan sosial media membuat orang menjadi mudah untuk mengumpulkan massa. Mereka yang berada di podium dan punya massa biasanya menjadi target para marketing sebuah perusahaan-perusahaan bisnis. Dengan memiliki ratusan ribu followers di sosial media misalnya, maka para pemilik bisnis akan memanfaatkan itu untuk mempromosikan produk yang mereka jual.

Ini adalah hal yang positif awalnya. Terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara public figure dengan pemilik bisnis. Masalahnya, apakah jenis hubungan saling menguntungkan ini terjalin juga antara public figure dengan para followers nya? 

Di 2022 ini, ada trend baru di sosial media namanya "racun (nama online shop platform)" dimana trend ini memanfaatkan public figure sosial media untuk gaining pengunjung sebanyak-banyaknya. Keuntungan yang mereka tawarkan kepada public figure bersifat relatif. Artinya semakin banyak customer yang bisa dia jangkau, semakin banyak pula keuntungan yang nantinya akan ia dapatkan. Program semacam ini lebih kita kenal sebagai program affiliate atau afiliasi. 

Karena belanja menjadi hal yang sangat mudah untuk dilakukan, ditambah setiap kali membuka sosial media yang kita lihat adalah ajakan untuk menghabiskan uang, maka muncul permasalahan baru di era digital sekarang yakni budaya konsumerisme.

Banyak penelitian terkait konsumerisme yang membuktikan bahwa generasi milenial adalah generasi yang paling boros dan konsumtif. Udah gak kaget, karena memang lingkungan kita sangat menormalisasi perilaku konsumtif tersebut. Buktinya, yang dilakukan public figure justru menginfluence followersnya untuk menjadi orang-orang yang konsumtif. That being sad, seperti yang sudah kubilang di awal, fenomena ini sangat dinormalisasi. Sehingga orang-orang gak sadar kalau apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. 

Perilaku konsumtif ini diperparah dengan adanya standar kecantikan. Karena kalau kamu belum menyadari, selain warna kulit, gaya berpakaian juga sangat menentukan bagaimana penampilan kamu di mata orang lain. Semakin bagus pakaian kamu, semakin putih warna kulitmu, semakin terlihat "baik" di mata orang. Semakin kamu menunjukkan fisik yang luar biasa, semakin banyak pula orang-orang yang akan menghargai kamu pada akhirnya.

Sehingga sudah bisa ditebak bagaimana endingnya. Industri berlomba-lomba mengeluarkan produk-produk fashion dan beauty demi memenuhi demand. Masyarakat berlomba-lomba membeli semua produk tersebut demi mengejar martabat dunia. Tentu, gak semua masyarakat. Tapi melihat bagaimana fenomena afiliasi ini terus berkembang, gak menutup kemungkinan kalau ternyata mayoritas dari masyarakat kita berperilaku demikian. 

Satu-satunya cara untuk mengurangi perilaku konsumtif ini adalah dengan menahan ego untuk gak selalu memaksa mengikuti standard society yang ada. Lingkaran setan ini perlu disudahi. Kalau terus-terusan memaksa untuk bisa memenuhi standard society maka akan selalu seperti itu circumstancesnya, bahkan bisa jadi akan semakin parah seiring berjalannya waktu. 

Perlu banget untuk kamu garisbawahi bahwa gak harus mengikuti fashion terkini untuk bisa tampil "bagus" di mata orang. Gak harus putih kok untuk bisa terlihat "cantik". Asal rapi dan bersih, sebenarnya cukup dan baik juga, kan?


 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose