• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

    Pada suatu hari yang cerah, matahari bersinar terang di antara lalu lalang burung terbang. Harusnya, hari tersebut menjadi salah satu hari terbaik yang dimiliki oleh Raisa sampai kemudian ibunya mendatanginya dengan wajah kusut dan menjelaskan bahwa mereka berdua harus segera meninggalkan rumah ini mengingat ia dan sang ayah resmi bercerai. Mengetahui fakta tersebut, Raisa kaget dan tidak terima. Ia tidak mau meninggalkan rumah yang menjadi tempat ia tumbuh bersama banyak memori indah di dalamnya. Sekali lagi ibunya berusaha menjelaskan bahwa keputusan yang diambil sudah bulat dan ini yang terbaik. Sejak saat itu, setiap kali matahari naik memamerkan cahaya kuningnya yang menyilaukan mata, Raisa membencinya.

 
   

Perceraian seperti tragedi menyeramkan yang menjadi alternatif solusi paling dihindari dalam masalah rumah tangga. Walaupun begitu, faktanya tingkat perceraian masih relatif tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, angka perceraian di Indonesia pada tahun 2020 menyentuh 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

            Di balik banyaknya kasus tersebut, masih banyak orang yang sibuk menghakimi keputusan orang tua yang memutuskan bercerai padahal tidak semua kasus perceraian membawa dampak negatif dalam kehidupan anak. Ketika mendengar berita tentang perceraian, pernahkah kamu berpikir bahwa bisa saja sebetulnya baik pihak suami maupun pihak istri sama-sama sudah merencanakan bagaimana selanjutnya kehidupan mereka di masa depan, bagaimana mengajarkan dan menjaga anak ketika mereka sudah tidak hidup dalam satu rumah lagi, bagaimana cara memenuhi kebutuhan sang anak baik secara materi maupun secara psikis?

            Well, perceraian tidak selalu memiliki akhir cerita yang buruk. Justru bukankah hebat ketika pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa hubungannya sudah tak lagi sehat dan memang harus diakhiri, maka mereka mengakhirinya dengan yakin dan berani. Banyak sekali kehidupan rumah tangga yang tidak sehat memaksa agar semua terlihat seolah baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya dengan alasan kasian anak dan lain sebagainya. Padahal, mereka tidak bisa bercerai karena memang tidak bisa hidup sendiri-sendiri alias sudah terlanjur bergantung pada pasangan.

            Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk bisa hidup secara mandiri tanpa didampingi oleh pasangan lagi. Tidak semua pasangan memiliki keberanian untuk menyudahi hubungan toxic mereka dengan alasan kasian pada anak padahal membesarkan anak dalam kondisi hubungan yang tidak sehat juga tidak baik. Kasus perceraian di Indonesia memang banyak, tetapi masih banyak lagi pasangan yang mempertahankan pernikahan mereka dengan alasan masih bisa diperbaiki padahal jalan satu-satunya yang tersisa hanya perceraian saja. Mari kita apresiasi seluruh keberanian yang sudah dimiliki oleh orang-orang yang kini menyandang status single parent. Mari kita hormati dan hargai keputusan pasangan yang telah resmi memutuskan bercerai. Mereka telah berani menyelamatkan diri dan keluarga kecil mereka dari kemungkinan yang paling buruk.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada era 4.0 sekarang, pendidikan menjadi salah satu unsur penting dan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran para orang tua rela bekerja keras demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan sang anak. Dari banyaknya orang yang menyadari pentingnya sebuah pendidikan dalam kebutuhan sosial masa depan, hanya sedikit dari mereka yang paham betul tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

            Pendidikan sejatinya faktor utama yang memengaruhi kemajuan suatu negara. Negara dikatakan maju apabila tingkat pendidikan dalam negara tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang berhasil membawa manusianya mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah untuk memerdekakan manusia.

            Dua poin utama dalam konteks manusia merdeka adalah 1) selamat jiwanya; 2) bahagia raganya. That’s it. Tujuan pendidikan tercapai ketika manusia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Mirisnya dua hal tersebut tidak pernah diajarkan dalam jenjang sekolah formal yang sudah kita tempuh berpuluh tahun. Sekolah formal seringkali hanya terfokus pada aspek teoritis dari materi yang sudah disesuaikan dengan kurikulum. Permasalahannya tidak semua materi tersebut memiliki kegunaan signifikan dalam rangka memenuhi dua poin utama manusia merdeka.

            Sekolah formal membantu peserta didiknya membangun jiwa kompetitif, di mana implementasi dari perasaan bersaing yang menggebu-gebu itu seringkali tidak sesuai dengan norma dan kepatutan sosial yang berlaku. Misalnya, di berbagai kasus peserta didik cenderung menghalalkan segala cara demi tercapainya nilai bagus dan menjadi juara kelas. Padahal tujuan dari pendidikan bukan untuk menjadi nomor satu dan mendapat nilai bagus. Di titik ini, pressure dari lingkungan keluarga dan sekolah juga menjadi salah satu faktor yang memaksa anak untuk melakukan segala cara yang tidak baik tersebut. 

            Perlukah kita merevisi kurikulum yang sudah terbentuk? Sesungguhnya kurikulum yang berjalan saat ini sudah sangat baik. Permasalahannya bukan terletak pada kurikulum, melainkan implementasi di lapangan yang kerap kali salah langkah. Seperti soal pandangan guru mengenai peserta didik yang pintar adalah mereka yang berbakat di bidang akademik sehingga, mereka yang tidak berbakat di bidang tersebut merasa rendah diri dan tidak puas padahal sesungguhnya mereka memiliki bakat di bidang non akademik.

            Hal ini, yang secara tidak langsung mematikan kreativitas dan keantusiasan peserta didik dalam menuntut ilmu. Kepada bapak ibu guru yang terhormat, kepada seluruh wali murid yang saya hormati, mari mencoba menghargai apapun bentuk kemampuan anak-anak anda sekalian. Tidak pintar matematika tidak lantas berarti mereka bodoh. Tidak bisa berbahasa inggris bukan berarti mereka tidak berbakat. Tidak juara kelas bukan berarti anak tersebut tidak cerdas. Pencapaian mereka saat menempuh sekolah formal bukanlah barometer tercapainya tujuan pendidikan. Sekali lagi tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, manusia yang merdeka adalah manusia yang selamat dan bahagia. Mari ciptakan lingkungan pendidikan yang baik dan nyaman agar peserta didik kita terjamin keselamatan jiwa dan kebahagiaan raganya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

     


    Hukum murphy mengatakan bahwa segala sesuatu yang bisa salah akan menjadi salah. Seperti itulah kondisi negara Indonesia saat ini. Belakangan ini, segala sesuatu berjalan lancar dan baik-baik saja. Tidak ada prediksi akan terjadi bencana yang menggemparkan satu negara, bahkan seluruh dunia ternyata turut merasakan dampak dari bencana ini. Semua orang disibukkan dengan kegiatan dan permasalahan masing-masing. Ketika bom itu dilemparkan barulah seluruh manusia menghentikan aktifitasnya dan memusatkan perhatian pada satu masalah yang sepertinya sepele, tetapi semakin lama semakin mematikan.

    Novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) atau yang sering disebut sebagai covid-19 mulai bergerak membumihanguskan banyak negara bahkan hampir satu dunia. Virus ini membawa dampak terhadap segala aspek. Salah satu aspek yang signifikan terkena dampak daripada virus corona atau covid-19 adalah aspek pendidikan. 

    Semua hal terkait kebijakan dan agenda-agenda dalam dunia pendidikan dihentikan sementara akibat banyaknya warga yang terjangkit virus corona, yang mana hal tersebut mengindikasikan bahwa penularan virus corona ini terlampau mudah dan semakin hari semakin membahayakan. Terbukti per 20 April 2020, dilansir dari tirto.id, total kasus positif corona di Indonesia mencapai 6.760 orang (Tirto.id, 2020) Diberlakukannya sistem lockdown atau berdiam dirumah saja juga menjadi salah satu alasan berubahnya agenda-agenda yang selama ini sudah dicanangkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud). 

    Salah satu agenda tersebut tidak lain adalah ujian nasional atau ujian kelulusan yang seharusnya diselenggarakan pada bulan April. Tetapi melihat dari pola penyebaran virus yang diketahui bisa ditularkan melalui air liur yang keluar saat si penderita batuk atau bersin, membuat semua orang tidak bisa berdekatan satu sama lain dengan jarak kurang dari satu meter, sehingga pemerintah mau tidak mau menerapkan kebijakan lockdown dan social distancing yang sudah dibuktikan efektivitasnya oleh negara-negara lain yang berhasil bangkit dari tekanan corona.

    Disebabkan oleh kebijakan lockdown dan social distancing  yang sampai saat ini terus berlanjut, akhirnya kemendikbud memutuskan untuk meniadakan ujian nasional. Berbagai tanggapan muncul tatkala peniadaan ujian nasional ini diumumkan. Sebagian besar pelajar memberikan tanggapan positif terkait penghapusan ujian nasional tahun ini. Sisanya menyayangkan keputusan pemerintah tersebut. Pasalnya, selama ini mereka sudah bekerja keras untuk mendapatkan hasil ujian yang maksimal. Mereka yang keberatan dengan keputusan pemerintah hanya berharap bisa merasakan euforia dari ujian nasional yang hampir selalu dilaksanakan setiap tahunnya. 

    Tidak hanya berdampak pada ujian kelulusan, ujian berskala nasional lain seperti ujian masuk perguruan tinggi negeri juga mendapatkan imbasnya. Untuk tahun ini, ujian masuk perguruan tinggi hanya mengerjakan soal TPS atau Tes Pengetahuan Skolastik. Hal tersebut juga telah diumumkan oleh lembaga yang menjadi penyelenggara tes masuk perguruan tinggi negeri (Ltmpt.ac.id, 2020). 

    Yang keberatan terhadap keputusan ini justru angkatan yang lulus pada tahun 2019 keatas. Pasalnya, mereka semua merasa keputusan demi keputusan yang diambil terkait pendidikan tahun ini dianggap terlalu memudahkan siswa angkatan yang lulus tahun 2020 dan dinilai tidak adil. Sudah cukup ujian nasional ditiadakan, ternyata angkatan ini merasakan kemudahan dalam mengerjakan tes ujian masuk perguruan tinggi negeri juga.

    Sebenarnya, keberadaan teknologi seharusnya bisa menjadi pertimbangan banyak petinggi dunia pendidikan untuk merombak segala agenda yang sudah terjadwalkan. Tidak menutup kemungkinan ujian nasional masih tetap dapat terlaksana meski harus berada di rumah saja. Banyak sekali situs, panel, aplikasi, dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan. Bahkan ini bisa menjadi kesempatan negara Indonesia untuk mengembangkan berbagai macam teknologi baru sebagai sarana pendukung dalam aksi belajar di rumah saja. 

    Jarak seharusnya bukan menjadi alasan dan hambatan dalam dunia pendidikan. Banyak teknologi yang kini bahkan mampu mendekatkan orang-orang yang terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Teknologi seharusnya akan menjadi salah satu aspek yang mengalami perkembangan pesat dan kemajuan yang signifikan di tengah pandemi ini. Khususnya teknologi yang dapat digunakan sebagai alat dan media pembelajaran.

    “Saat ini, kita sedang berada di zaman IPTEK. Seharusnya, ujian nasional tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat teknologi kini semakin maju dan canggih,” ungkap salah satu responden dalam kuisioner yang saya buat terkait dengan ujian nasional di tengah wabah virus corona, Fariz Hidayat angkatan yang lulus tahun 2020.

    Sejatinya kemajuan dalam bidang IPTEK dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk memudahkan semua orang. Sangat disayangkan, ketika teknologi yang digadang-gadang sebagai alat pembantu yang memudahkan pekerjaan justru tidak dimanfaatkan dan dikembangkan lebih jauh lagi. 

    Semua orang dapat dengan mudah mengakses teknologi. Baik itu hanya menggunakan maupun turut mengembangkan. Maka, tanggung jawab untuk mengatasi masalah teknologi tidak hanya dibebankan kepada pemerintah dan jajarannya, tetapi keseluruhan dari tiap-tiap pengguna teknologi itu sendiri. Oleh karena itu, meskipun dunia tengah diguncang oleh bom maha dahsyat sekalipun, setidaknya kita tidak berhenti untuk berproses. Berproses untuk menciptakan kemajuan-kemajuan yang tidak kalah dahsyatnya dari bom bencana yang telah dijatuhkan. Jangan menjadikan pandemi ini sebagai alasan kita untuk berhenti melakukan hal-hal yang seharusnya memang dilakukan. 

DAFTAR PUSTAKA

Ltmpt.ac.id. (2020). No Title. ltmpt.ac.id

Tirto.id. (2020). Update Corona 20 April 2020 Indonesia dan Dunia: Info Data Terkini. https://tirto.id/update-corona-20-april-2020-indonesia-dan-dunia-info-data-terkini-ePJ1

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

     Mewabahnya virus covid-19 membuat warga di seluruh belahan dunia, khususnya di negara Indonesia berbondong-bondong bekerja keras untuk melawan pandemi tersebut. Warga yang harus mengalami kehilangan akibat ditinggal oleh sanak saudara karena terjangkit virus covid-19 tidak sedikit jumlahnya. Setiap saat masyarakat dicekam oleh rasa takut, cemas bahkan sedih karena pandemi yang tidak kunjung usai.

    Berbekal tekad dan semangat yang tinggi untuk mengurangi jumlah korban berjatuhan akibat virus corona, tenaga medis di Indonesia harus bekerja keras berkali-kali lipat dari biasanya. Terhitung sampai saat ini sudah ada 4.241 warga positif terkena covid-19, dengan total korban meninggal sebanyak 373 orang. Melihat tingginya intensitas penularan virus ini, tentunya tenaga medis tidak bisa diam dan berpangku tangan saja.

    Banyak warga yang melemparkan pujian kepada tenaga medis, termasuk perawat yang menjadi garda terdepan selama masa pandemi saat ini. Tidak sedikit yang menyebut mereka sebagai pahlawan, bahkan banyak yang menciptakan puisi dan lagu untuk tenaga medis yang tetap ikhlas bekerja dan berada di posisi yang rentan terjangkit virus covid-19.

Doctors and nurses team Premium Vector 

    Lantas sebenarnya, bagaimana perasaan, sekaligus suka duka bekerja sebagai tenaga medis dalam periode ini. Salah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Jakarta menumpahkan segala ceritanya pada salah satu wartawan suara.com. Wanita yang bernama Maulia Hindun ini menyampaikan bahwa sebenarnya, ketika ia mengenakan APD atau Alat Pelindung Diri, kerap kali Maulia merasa kepanasan dan sesak, tetapi karena pasien mengeluh kedinginan, Maulia rela menaikkan suhu AC di ruang IGD tempat dia bekerja. Baginya, keinginan pasien adalah prioritas utama.

    Melihat korban virus covid-19 berpisah dari keluarganya yang lain, membuat Maulia memiliki semangat yang tinggi untuk melakukan pekerjaannya sebagai perawat. Perasaan panik bercampur cemas yang tergambar pada wajah sanak saudara korban covid-19 tidak akan pernah dilupakan oleh Maulia.

    Perasaan mencekam juga melanda ketika Maulia memasuki IGD tempat ia bertugas. Pasien-pasien covid-19 tersebut kerap kali panik akan situasi yang mereka alami, tetapi Maulia beserta perawat lain dengan sabar menenangkan dan memberi pengertian, bahwasannya untuk menumbuhkan imun dalam tubuh, seseorang harus bisa menjaga pola pikirnya.

    Tentu, bertahan berjam-jam menggunakan APD bukan hal yang mudah dilakukan. Para tenaga medis tidak boleh makan, minum dan buang air. Karena, sekali APD dilepas, maka APD tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi. Sedangkan, harga APD sangat mahal, sehingga mereka tidak bisa membuang-buang APD hanya karena ingin makan, minum dan buang air.

    Para tenaga medis selaku garda terdepan rela melewati itu semua. Bagi mereka, keselamatan warga lebih utama. Mereka akan merasa bahagia, ketika akhirnya satu per satu warga yang terjangkit sembuh, dan bisa bertemu dengan keluarga mereka. Hal tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa tenaga medis rela bekerja keras dan mengorbankan dirinya sendiri.

    Maka dari itu, semua tenaga medis berharap rakyat Indonesia bersedia menuruti kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk melawan pandemi covid-19 ini. Meski harga yang ditukar sangat mahal, tentu sebanding dengan kesehatan seluruh warga yang mati-matian sedang diperjuangkan. Para tenaga medis berharap, bukan hanya mereka yang bekerja keras melawan virus corona, tetapi seluruh rakyat Indonesia, harus turun tangan berkorban demi pulihnya Bumi Pertiwi. Hanya dengan bersatunya seluruh warga Indonesia untuk melawan covid-19, perlahan-lahan Indonesia akan segera dapat bangkit dari keterpurukan ini.

 Postingan ini diterbitkan juga di: Tenaga Medis vs Covid-19

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose