• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

Well, film adalah media yang seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang untuk menyebarkan propaganda. Biasanya, semakin besar masa yang dimiliki suatu industri perfilm-an, semakin tinggi kemungkinan tujuan dari penyebaran propaganda tersebut berhasil terpenuhi. Akan tetapi, banyaknya masa yang dimiliki sebuah industri film tidak selalu membawa dampak positif. Contoh nyata yang sempat viral belakangan adalah kartun Nussa dan Rara. Kita tau sama tau bahwa beberapa golongan masyarakat sempat menolak keras kartun Nussa dan Rara beredar di pertelevisian di Indonesia. Alasannya tidak jauh-jauh dari bias agama. Taliban katanya. Berisikan islam yang terlalu radikal katanya. Padahal kartun Nussa dan Rara jelas sekali mengajarkan banyak hal kebaikan. 


 

Anyway, bukan masalah terkait pendapat nyeleneh itu yang mau aku bahas di sini. Tapi, aku mau menghiglight bahwa dari pendapat-pendapat yang sempat naik di media sosial tersebut kita jadi tau, jenis-jenis masyarakat Indonesia itu terbagi menjadi berapa macam. Jenis masyarakat yang harus dihindari adalah masyarakat yang mudah sekali menghakimi sesuatu melalui sudut pandang dia yang jelas subjektif dan sempit pemikirannya. Padahal dari kartun Nussa dan Rara, ada banyak yang bisa dipetik dan dipelajari. Bukan serta merta soal adab dan akhlak saja. Tapi, karena manusia-manusia ini terkurung dalam bubble-bubble hidup yang sempit, dia jadi tidak bisa melihat bahwa kartun tersebut memiliki banyak hal baik lainnya. Yang dia tangkap hanya kartun Nussa dan Rara mendoktrin banyak ajaran radikal. Selesai. 

Orang-orang yang seperti ini adalah jenis orang yang kalau salah, ketika ditunjukkan yang benar dia marah dan nyolot tidak terima. Capek-capekin diri dan menghabiskan energi banget kalau kita punya teman seperti ini, kan?

Kalau mau teliti, selain mengajarkan akidah dan akhlak, Nussa dan Rara juga mengajarkan caranya menerima perbedaan yang ada di sekitar kita kepada anak-anak. Tokoh Nussa adalah tokoh disabilitas yang memiliki kekurangan pada anggota gerak bagian bawah. Kakinya diganti oleh kaki buatan. Tetapi, tokoh Nussa ini menunjukkan bahwa meski dia memiliki keterbatasan, dia tetap baik-baik saja dan bisa berbaur dengan lingkungannya. Kartun Nussa dan Rara mengajarkan, meski ada orang yang berbeda dengan kita sebab dia punya keterbatasan fisik; its oke kok dan tidak perlu dibully apalagi sampai didzolimi. 

 


Hal-hal seperti itu, belum tentu kita bisa mengajarkannya kepada anak sejak dini. Sebab, belum tentu di lingkungan kita, ada orang difabel yang bisa dilihat secara langsung oleh anak. Seringkali yang terjadi adalah kita bisa mengajarkan arti toleransi secara teori kepada anak tetapi praktiknya 0. Karena, anak tidak melihat contoh langsung bagaimana teori "toleransi" pada orang-orang berkebutuhan khusus itu dalam kehidupan sehari-hari. Maka di sinilah kartun Nussa dan Rara berperan. Sebagai media untuk mengajarkan kepada anak untuk hidup damai dan saling menghargai dalam berteman, bagaimana berbuat baik sesuai norma dan agama di lingkungan. 

Sebegitu banyaknya hal positif yang bisa di ambil, kok bisa ya orang-orang melihat kartun ini dari sudut pandang yang buruk? Heran :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
    Dalam tradisi kehidupan bermasyarakat saat ini, kita cenderung menemukan fakta bahwa individu yang memiliki kemampuan mengolah ilmu eksakta lebih dihargai daripada pribadi yang mahir mengubah kata menjadi karya sastra. Dengan munculnya trend seperti itu, perlahan-lahan anak lebih ditekan untuk menguasai matematika dan mengabaikan perkembangan keterampilan berbahasanya. Padahal bahasa menjadi pintu yang membawa manusia pada ilmu pengetahuan. 
 
    Keterampilan berbahasa sejatinya tidak dilatih pada masa sekolah saja, melainkan jauh sebelum anak memasuki usia sekolah ia sudah harus terbiasa belajar berbahasa yang baik dan benar. Dengan begitu, ketika anak mulai menginjakkan kakinya ke sekolah, anak sudah terbiasa mengolah kata menjadi satu kesatuan tata bahasa yang baik. Semakin tinggi kemampuan anak dalam berbahasa, semakin tinggi pula kemungkinan anak memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan pada jenjang sekolah formal.
 
    Selain itu, anak yang mampu menyampaikan gagasan maupun keinginannya dengan baik lebih diapresiasi daripada anak yang tidak bisa berbahasa dengan benar. Meskipun demikian, realitanya, sebagai orang tua dan guru kita justru membiarkan keterampilan berbahasa anak alakadarnya dan tidak pernah mengajari mereka bagaimana cara berbahasa yang baik. Ini yang kemudian menjadi problematika yang harus diatasi dan diperbaiki. Jika kita membiasakan anak untuk mendengar dan mengucapkan bahasa yang tidak baku, maka hal ini akan menciptakan kesulitan untuk anak kelak ketika ia harus membaca literatur berbasis ilmiah. Anak bisa jadi sulit memahami bacaan ilmiah, bosan saat membaca literatur ilmiah dan lain sebagainya. Bahkan pada kondisi tertentu, bukan tidak mungkin jika ada keterkaitan antara minat baca dengan kebiasaan berbahasa anak dalam kehidupan sehari-hari. Pada poin ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa menjadi penentu kemampuan belajar anak.

    Itulah kenapa melatih anak berbahasa sejak dini menjadi salah satu hal yang penting untuk segera dilakukan. Utamanya saat anak berumur 1,5 hingga 3 tahun. Karena menurut Montessori, usia tersebut merupakan periode sensitif bagi perkembangan kemampuan berbahasa anak. Melatih perkembangan bahasa anak bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah mendongeng. Dongeng selama ini dikenal hanya sebatas bacaan ringan dan penuh khayalan indah, bagi sebagaian orang dongeng tak ubahnya cerita fiksi yang memiliki porsi bahagia berlebih alias tidak masuk akal. Tetapi dilain sisi, dongeng adalah media yang menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang baik pada anak. Bukan hanya itu, mendongeng  juga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak hingga ke level yang menakjubkan.
 

    Dongeng dapat meningkatkan penguasaan kosakata bahasa anak dengan signifikan, karena dalam mendongeng terjadi proses penambahan kosakata baru, mengevaluasi serta memahami informasi baru. Menurut penelitian Pengaruh Mendengarkan Dongeng Terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Usia Prasekolah yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, membuktikan bahwa mendengarkan dongeng ternyata memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap anak usia prasekolah. 

    Dengan mendongeng, seiring bertambahnya kosakata yang dikuasai oleh anak, maka kemampuan mereka dalam berbahasa yang baik dan benar juga turut meningkat. Aktivitas sederhana ini, meskipun terdengar sepele, justru kelak akan menyelamatkan anak dari kesulitan memahami bacaan-bacaan ilmiah dan berat. Kegiatan sederhana seperti mendongeng, selain menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budi pekerti kepada anak, juga menjadikan anak mahir dalam menggunakan bahasa sebagai bentuk komunikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dongeng sejatinya adalah jalan ninja untuk kita para orang tua dan pendidik untuk memenuhi kebutuhan perkembangan berbahasa anak sejak usia dini.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada era 4.0 sekarang, pendidikan menjadi salah satu unsur penting dan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran para orang tua rela bekerja keras demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan sang anak. Dari banyaknya orang yang menyadari pentingnya sebuah pendidikan dalam kebutuhan sosial masa depan, hanya sedikit dari mereka yang paham betul tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

            Pendidikan sejatinya faktor utama yang memengaruhi kemajuan suatu negara. Negara dikatakan maju apabila tingkat pendidikan dalam negara tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang berhasil membawa manusianya mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah untuk memerdekakan manusia.

            Dua poin utama dalam konteks manusia merdeka adalah 1) selamat jiwanya; 2) bahagia raganya. That’s it. Tujuan pendidikan tercapai ketika manusia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Mirisnya dua hal tersebut tidak pernah diajarkan dalam jenjang sekolah formal yang sudah kita tempuh berpuluh tahun. Sekolah formal seringkali hanya terfokus pada aspek teoritis dari materi yang sudah disesuaikan dengan kurikulum. Permasalahannya tidak semua materi tersebut memiliki kegunaan signifikan dalam rangka memenuhi dua poin utama manusia merdeka.

            Sekolah formal membantu peserta didiknya membangun jiwa kompetitif, di mana implementasi dari perasaan bersaing yang menggebu-gebu itu seringkali tidak sesuai dengan norma dan kepatutan sosial yang berlaku. Misalnya, di berbagai kasus peserta didik cenderung menghalalkan segala cara demi tercapainya nilai bagus dan menjadi juara kelas. Padahal tujuan dari pendidikan bukan untuk menjadi nomor satu dan mendapat nilai bagus. Di titik ini, pressure dari lingkungan keluarga dan sekolah juga menjadi salah satu faktor yang memaksa anak untuk melakukan segala cara yang tidak baik tersebut. 

            Perlukah kita merevisi kurikulum yang sudah terbentuk? Sesungguhnya kurikulum yang berjalan saat ini sudah sangat baik. Permasalahannya bukan terletak pada kurikulum, melainkan implementasi di lapangan yang kerap kali salah langkah. Seperti soal pandangan guru mengenai peserta didik yang pintar adalah mereka yang berbakat di bidang akademik sehingga, mereka yang tidak berbakat di bidang tersebut merasa rendah diri dan tidak puas padahal sesungguhnya mereka memiliki bakat di bidang non akademik.

            Hal ini, yang secara tidak langsung mematikan kreativitas dan keantusiasan peserta didik dalam menuntut ilmu. Kepada bapak ibu guru yang terhormat, kepada seluruh wali murid yang saya hormati, mari mencoba menghargai apapun bentuk kemampuan anak-anak anda sekalian. Tidak pintar matematika tidak lantas berarti mereka bodoh. Tidak bisa berbahasa inggris bukan berarti mereka tidak berbakat. Tidak juara kelas bukan berarti anak tersebut tidak cerdas. Pencapaian mereka saat menempuh sekolah formal bukanlah barometer tercapainya tujuan pendidikan. Sekali lagi tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, manusia yang merdeka adalah manusia yang selamat dan bahagia. Mari ciptakan lingkungan pendidikan yang baik dan nyaman agar peserta didik kita terjamin keselamatan jiwa dan kebahagiaan raganya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

     


    Hukum murphy mengatakan bahwa segala sesuatu yang bisa salah akan menjadi salah. Seperti itulah kondisi negara Indonesia saat ini. Belakangan ini, segala sesuatu berjalan lancar dan baik-baik saja. Tidak ada prediksi akan terjadi bencana yang menggemparkan satu negara, bahkan seluruh dunia ternyata turut merasakan dampak dari bencana ini. Semua orang disibukkan dengan kegiatan dan permasalahan masing-masing. Ketika bom itu dilemparkan barulah seluruh manusia menghentikan aktifitasnya dan memusatkan perhatian pada satu masalah yang sepertinya sepele, tetapi semakin lama semakin mematikan.

    Novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) atau yang sering disebut sebagai covid-19 mulai bergerak membumihanguskan banyak negara bahkan hampir satu dunia. Virus ini membawa dampak terhadap segala aspek. Salah satu aspek yang signifikan terkena dampak daripada virus corona atau covid-19 adalah aspek pendidikan. 

    Semua hal terkait kebijakan dan agenda-agenda dalam dunia pendidikan dihentikan sementara akibat banyaknya warga yang terjangkit virus corona, yang mana hal tersebut mengindikasikan bahwa penularan virus corona ini terlampau mudah dan semakin hari semakin membahayakan. Terbukti per 20 April 2020, dilansir dari tirto.id, total kasus positif corona di Indonesia mencapai 6.760 orang (Tirto.id, 2020) Diberlakukannya sistem lockdown atau berdiam dirumah saja juga menjadi salah satu alasan berubahnya agenda-agenda yang selama ini sudah dicanangkan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud). 

    Salah satu agenda tersebut tidak lain adalah ujian nasional atau ujian kelulusan yang seharusnya diselenggarakan pada bulan April. Tetapi melihat dari pola penyebaran virus yang diketahui bisa ditularkan melalui air liur yang keluar saat si penderita batuk atau bersin, membuat semua orang tidak bisa berdekatan satu sama lain dengan jarak kurang dari satu meter, sehingga pemerintah mau tidak mau menerapkan kebijakan lockdown dan social distancing yang sudah dibuktikan efektivitasnya oleh negara-negara lain yang berhasil bangkit dari tekanan corona.

    Disebabkan oleh kebijakan lockdown dan social distancing  yang sampai saat ini terus berlanjut, akhirnya kemendikbud memutuskan untuk meniadakan ujian nasional. Berbagai tanggapan muncul tatkala peniadaan ujian nasional ini diumumkan. Sebagian besar pelajar memberikan tanggapan positif terkait penghapusan ujian nasional tahun ini. Sisanya menyayangkan keputusan pemerintah tersebut. Pasalnya, selama ini mereka sudah bekerja keras untuk mendapatkan hasil ujian yang maksimal. Mereka yang keberatan dengan keputusan pemerintah hanya berharap bisa merasakan euforia dari ujian nasional yang hampir selalu dilaksanakan setiap tahunnya. 

    Tidak hanya berdampak pada ujian kelulusan, ujian berskala nasional lain seperti ujian masuk perguruan tinggi negeri juga mendapatkan imbasnya. Untuk tahun ini, ujian masuk perguruan tinggi hanya mengerjakan soal TPS atau Tes Pengetahuan Skolastik. Hal tersebut juga telah diumumkan oleh lembaga yang menjadi penyelenggara tes masuk perguruan tinggi negeri (Ltmpt.ac.id, 2020). 

    Yang keberatan terhadap keputusan ini justru angkatan yang lulus pada tahun 2019 keatas. Pasalnya, mereka semua merasa keputusan demi keputusan yang diambil terkait pendidikan tahun ini dianggap terlalu memudahkan siswa angkatan yang lulus tahun 2020 dan dinilai tidak adil. Sudah cukup ujian nasional ditiadakan, ternyata angkatan ini merasakan kemudahan dalam mengerjakan tes ujian masuk perguruan tinggi negeri juga.

    Sebenarnya, keberadaan teknologi seharusnya bisa menjadi pertimbangan banyak petinggi dunia pendidikan untuk merombak segala agenda yang sudah terjadwalkan. Tidak menutup kemungkinan ujian nasional masih tetap dapat terlaksana meski harus berada di rumah saja. Banyak sekali situs, panel, aplikasi, dan lain sebagainya yang dapat dimanfaatkan. Bahkan ini bisa menjadi kesempatan negara Indonesia untuk mengembangkan berbagai macam teknologi baru sebagai sarana pendukung dalam aksi belajar di rumah saja. 

    Jarak seharusnya bukan menjadi alasan dan hambatan dalam dunia pendidikan. Banyak teknologi yang kini bahkan mampu mendekatkan orang-orang yang terpisah oleh jarak yang cukup jauh. Teknologi seharusnya akan menjadi salah satu aspek yang mengalami perkembangan pesat dan kemajuan yang signifikan di tengah pandemi ini. Khususnya teknologi yang dapat digunakan sebagai alat dan media pembelajaran.

    “Saat ini, kita sedang berada di zaman IPTEK. Seharusnya, ujian nasional tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mengingat teknologi kini semakin maju dan canggih,” ungkap salah satu responden dalam kuisioner yang saya buat terkait dengan ujian nasional di tengah wabah virus corona, Fariz Hidayat angkatan yang lulus tahun 2020.

    Sejatinya kemajuan dalam bidang IPTEK dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk memudahkan semua orang. Sangat disayangkan, ketika teknologi yang digadang-gadang sebagai alat pembantu yang memudahkan pekerjaan justru tidak dimanfaatkan dan dikembangkan lebih jauh lagi. 

    Semua orang dapat dengan mudah mengakses teknologi. Baik itu hanya menggunakan maupun turut mengembangkan. Maka, tanggung jawab untuk mengatasi masalah teknologi tidak hanya dibebankan kepada pemerintah dan jajarannya, tetapi keseluruhan dari tiap-tiap pengguna teknologi itu sendiri. Oleh karena itu, meskipun dunia tengah diguncang oleh bom maha dahsyat sekalipun, setidaknya kita tidak berhenti untuk berproses. Berproses untuk menciptakan kemajuan-kemajuan yang tidak kalah dahsyatnya dari bom bencana yang telah dijatuhkan. Jangan menjadikan pandemi ini sebagai alasan kita untuk berhenti melakukan hal-hal yang seharusnya memang dilakukan. 

DAFTAR PUSTAKA

Ltmpt.ac.id. (2020). No Title. ltmpt.ac.id

Tirto.id. (2020). Update Corona 20 April 2020 Indonesia dan Dunia: Info Data Terkini. https://tirto.id/update-corona-20-april-2020-indonesia-dan-dunia-info-data-terkini-ePJ1

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose