• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

Tadinya, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang dewasa. Aku tidak mengerti mengapa mereka yang berperan sebagai orang tua kerap kali menyia-nyiakan kehadiran buah hati yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya. Mereka melakukan tindak kekerasan terhadap anak mereka sendiri, mereka mengacuhkan kehadiran anak mereka sendiri, bahkan mereka tega membunuh anak mereka sendiri. Ku tekankan sekali lagi: anak mereka sendiri. Padahal, mereka yang menginginkan anak hadir dalam rumah tangga mereka. Mereka yang memohon kepada Tuhan, meminta agar diberi kepercayaan untuk mengasuh anak. Lantas ketika permintaan mereka dipenuhi, yang terjadi adalah mereka menyia-nyiakannya. Kenapa?


 

Biar kuceritakan sebuah berita yang membuat aku berpikir bahwa ternyata ada manusia yang tidak mampu memanfaatkan otak yang diberi Tuhan dengan baik. Alkisah suatu hari, ada Ibu yang tega menyiksa anaknya yang baru berusia 5 bulan. Katanya, sang anak rewel dan menangis terus sehingga ia memukulinya. Kemudian anak tersebut tewas. Bagian yang paling tidak waras, sang ibu melarang siapapun untuk melaporkan kejadian ini sebab dia ingin berpergian ke Jogja. Dia takut kepergiannya batal hanya karena harus mengurus anaknya yang telah meninggal. Sehingga jasad bayi 5 bulan ini dibiarkan membusuk begitu saja di kamarnya. Pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku ketika membaca berita ini adalah: apakah sang ibu memiliki masalah kognitif yang menyebabkan kemampuan berpikirnya terganggu? Maksudku, halo? Anak itu baru berusia 5 bulan. Lantas apa yang si ibu harapkan? Sang bayi selalu tertidur dengan tenang?

Kamu tau, memiliki anak memang bukan perkara sepele. Membesarkan anak tidak sama dengan membesarkan kelinci. Anak adalah makhluk yang kompleks. Tidak pernah ada patokan pasti bagaimana cara membesarkan anak yang baik itu seperti apa, karena mereka terlalu kompleks; setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini barangkali tidak dipahami oleh semua orang tua. Mereka mungkin tidak memahami bahwa tidak semua anak memiliki sikap yang sama. Mungkin anak orang lain bisa selalu tenang dan penurut serta pendiam, sementara anak yang satunya super aktif dan memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya sehingga ia selalu ingin mencoba dan mencoba. 

Jika kamu memutuskan untuk menjadi orang tua, sudahkah kamu paham dengan kenyataan ini? Kenyataan bahwa anak itu bertumbuh. Seiring dengan pertumbuhan fisik, ada pertumbuhan emosi yang juga harus kamu kawal dan kamu hadapi. Akan ada episode-episode menyebalkan saat anak sedang berusaha mengenali emosinya sendiri. Dan itu tidak pernah mudah.

Di samping pertumbuhan anak, ada masalah finansial yang harus kamu tanggung. Sejak hamil hingga anakmu lahir ke dunia. Sejak bayi hingga ia besar nanti. Ada biaya yang tidak sedikit yang harus kamu tanggung. Sudahkah kamu siap dengan bagian ini? Karena, masalah finansial adalah masalah krusial. Menurutku, keberlangsungan sebuah keluarga bergantung kepada penghasilan yang kalian miliki. Anak yang kamu rawat perlu uang untuk memenuhi gizi mereka, perlu uang untuk pendidikan, perlu uang untuk bermain, perlu uang untuk kesehatan mereka, dan kebutuhan-kebutuhan tersier lain yang sama-sama memerlukan uang.

Saat masa pertumbuhan, sebagai orang tua, kamu adalah madrasah pertama yang ia dapatkan. Sebagai orang tua, nantinya kalian akan menjadi contoh untuk ia tiru. Kalian akan mengajari banyak hal dasar yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak kalian selanjutnya. Sudahkah kalian memiliki bekal untuk ini? 

Dan sebagai orang tua, tentu kalian tidak ingin meninggalkan anak kalian di saat ia belum siap sepenuhnya hidup mandiri di dunia yang kejam ini. Artinya, kalian harus memikirkan kesehatan kalian agar dapat hidup dalam waktu yang lama. Walaupun umur manusia sejatinya sudah ditentukan, tetapi berikhtiar untuk hidup sehat tidak ada salahnya kan? Maka pertanyaan selanjutnya, sudahkah kalian mempersiapkan kehidupan yang sehat tersebut? Lagipula, anak yang sehat berasal dari orang tua yang sehat pula. 

Dengan segala kompleksitas manusia, apakah kamu yakin kamu siap memiliki, membesarkan, dan merawat anak? Jika kamu ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, lebih baik kamu mengurungkan niat untuk memiliki anak. Tidak ada aturan yang mewajibkan pasutri untuk memiliki anak. Kalian berhak memilih untuk tidak memiliki anak. Jangan memaksakan kehendak untuk memiliki anak jika kamu belum siap seutuhnya, Atau kamu akan berakhir menjadi pembunuh dari anak-anakmu sendiri; membunuh secara fisik dan menghancurkan masa depannya adalah hasil akhir yang akan kamu peroleh jika kamu masih saja keras kepala memaksa untuk memiliki anak, sementara kesiapan dari sisi finansial, mental dan pengetahuan tidak kamu miliki. Pikirkanlah; memiliki anak bukan tujuan utama dalam sebuah pernikahan. Jadi, tidak perlu merasa tergesa-gesa untuk segera menghasilkan keturunan.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Rasanya, kasus bullying selalu terjadi di mana saja dan pelakunya bisa siapa saja. Tidak memandang gender. Tidak memandang usia. Tua, muda semua bisa menjadi pelaku dalam kasus perundungan. Baru-baru ini, kasus bullying viral lagi karena korban diduga mengalami bullying berupa kekerasan fisik hingga meninggal dunia. Korbannya masih pelajar. Dan tebak, berapa usia pelaku? Betul. Tidak berbeda jauh dengan korban. Pelaku juga masih pelajar, dan mereka melakukan perbuatan tercela tersebut ketika korban hendak menunaikan sholat. Kok mereka? Lah pelakunya ada sembilan, bun :)

 

Bayangkan, kamu mengandung anak selama 9 bulan, begitu lahir kamu besarkan dia dengan sepenuh hati, kamu jaga dia seolah dia satu-satunya barang berharga yang kamu punya. Ketika menginjak usia sekolah, ada segerombolan manusia entah siapa tiba-tiba datang dan menyakiti anakmu. Bukan disakiti fisik saja, mental juga dirusak. Tidak cukup sampai disitu, akhirnya kamu terpaksa merelakan anakmu pergi untuk selamanya sebab kekerasan fisik yang dialami ternyata berakibat fatal. Hancur kan?

Tapi orang tua pelaku tentu lebih hancur lagi. Sama. Dia juga membesarkan anaknya dengan sepenuh hati. Tetapi pada akhirnya harus menyaksikan anaknya menjadi pelaku pembullyan. Atau dalam kasus di atas, barang kali sudah masuk ranah pembunuhan? Tentu dia merasa bersalah dan merasa gagal. Perasaan hancur yang dirasakan oleh orang tua pelaku dua kali lipat. Ia harus menanggung perasaan bersalah sebab anaknya melakukan tindakan kriminal yang merenggut nyawa orang lain, dan perasaan kecewa, sedih sebab merasa gagal dalam mendidik anak.

Tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya tumbuh menjadi seorang kriminal dan melakukan hal-hal jahat. Lantas kenapa selalu saja ada kasus pembullyan di mana bahkan pelakunya masih di bawah umur?

Barangkali, ada kelalaian yang tidak disadari orang tua saat mengasuh anak. Mungkin tanpa sengaja orang tua memperlihatkan adegan kekerasaan pada sang anak. Mungkin tanpa sadar orang tua melukai harga diri sang anak saat di rumah hingga anak merasa rendah diri dan mencari-cari pembuktian akan superioritas dia dengan membully anak yang lebih lemah di sekolahnya. 

Anak yang terluka harga dirinya sebab selalu diremehkan saat di rumah akan sibuk mencari pembuktian di luar rumah. Ia akan sibuk membuktikan bahwa dia kuat, bahwa dia bisa, bahwa dia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain sehingga sang anak bisa saja mencari pembuktian tersebut dengan cara-cara yang negatif.

Kelalaian kita sebagai pendidik juga barangkali berperan dalam hal ini. Mungkin kita sebagai guru di sekolah kurang memberi contoh mengenai perilaku yang baik sebenarnya seperti apa. Mungkin kita sebagai guru kurang bersikap tegas, ketika siswa berbuat salah bukannya memberi sanksi malah mengabaikan dengan alasan "kan dia masih kecil. wajarlah" padahal dari kenakalan sepele saja, ketika kita tidak bertindak tegas, anak bisa jadi akan berpikiran bahwa perilakunya benar dan tidak apa-apa untuk melakukan kenakalan-kenakalan lain. 

Ada banyak yang perlu dikoreksi dalam kasus perundungan. Baik pihak orang tua maupun sekolah sama-sama memiliki tanggung jawab terkait kasus tersebut. Seharusnya semua pihak masing-masing berbenah diri. Sudahkah kita mengemban tanggung jawab dengan amanah? Apakah kita masih melakukan kelalaian-kelalaian tersebut? Perilaku anak-anak merupakan cerminan dari orang dewasa di sekitarnya, jadi jika anak-anak sampai melakukan tindak kejahatan; salah siapakah akhirnya?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Well, film adalah media yang seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang untuk menyebarkan propaganda. Biasanya, semakin besar masa yang dimiliki suatu industri perfilm-an, semakin tinggi kemungkinan tujuan dari penyebaran propaganda tersebut berhasil terpenuhi. Akan tetapi, banyaknya masa yang dimiliki sebuah industri film tidak selalu membawa dampak positif. Contoh nyata yang sempat viral belakangan adalah kartun Nussa dan Rara. Kita tau sama tau bahwa beberapa golongan masyarakat sempat menolak keras kartun Nussa dan Rara beredar di pertelevisian di Indonesia. Alasannya tidak jauh-jauh dari bias agama. Taliban katanya. Berisikan islam yang terlalu radikal katanya. Padahal kartun Nussa dan Rara jelas sekali mengajarkan banyak hal kebaikan. 


 

Anyway, bukan masalah terkait pendapat nyeleneh itu yang mau aku bahas di sini. Tapi, aku mau menghiglight bahwa dari pendapat-pendapat yang sempat naik di media sosial tersebut kita jadi tau, jenis-jenis masyarakat Indonesia itu terbagi menjadi berapa macam. Jenis masyarakat yang harus dihindari adalah masyarakat yang mudah sekali menghakimi sesuatu melalui sudut pandang dia yang jelas subjektif dan sempit pemikirannya. Padahal dari kartun Nussa dan Rara, ada banyak yang bisa dipetik dan dipelajari. Bukan serta merta soal adab dan akhlak saja. Tapi, karena manusia-manusia ini terkurung dalam bubble-bubble hidup yang sempit, dia jadi tidak bisa melihat bahwa kartun tersebut memiliki banyak hal baik lainnya. Yang dia tangkap hanya kartun Nussa dan Rara mendoktrin banyak ajaran radikal. Selesai. 

Orang-orang yang seperti ini adalah jenis orang yang kalau salah, ketika ditunjukkan yang benar dia marah dan nyolot tidak terima. Capek-capekin diri dan menghabiskan energi banget kalau kita punya teman seperti ini, kan?

Kalau mau teliti, selain mengajarkan akidah dan akhlak, Nussa dan Rara juga mengajarkan caranya menerima perbedaan yang ada di sekitar kita kepada anak-anak. Tokoh Nussa adalah tokoh disabilitas yang memiliki kekurangan pada anggota gerak bagian bawah. Kakinya diganti oleh kaki buatan. Tetapi, tokoh Nussa ini menunjukkan bahwa meski dia memiliki keterbatasan, dia tetap baik-baik saja dan bisa berbaur dengan lingkungannya. Kartun Nussa dan Rara mengajarkan, meski ada orang yang berbeda dengan kita sebab dia punya keterbatasan fisik; its oke kok dan tidak perlu dibully apalagi sampai didzolimi. 

 


Hal-hal seperti itu, belum tentu kita bisa mengajarkannya kepada anak sejak dini. Sebab, belum tentu di lingkungan kita, ada orang difabel yang bisa dilihat secara langsung oleh anak. Seringkali yang terjadi adalah kita bisa mengajarkan arti toleransi secara teori kepada anak tetapi praktiknya 0. Karena, anak tidak melihat contoh langsung bagaimana teori "toleransi" pada orang-orang berkebutuhan khusus itu dalam kehidupan sehari-hari. Maka di sinilah kartun Nussa dan Rara berperan. Sebagai media untuk mengajarkan kepada anak untuk hidup damai dan saling menghargai dalam berteman, bagaimana berbuat baik sesuai norma dan agama di lingkungan. 

Sebegitu banyaknya hal positif yang bisa di ambil, kok bisa ya orang-orang melihat kartun ini dari sudut pandang yang buruk? Heran :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose