• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

     Hai, apa kabar? Klise ya.. opening tulisan kali ini sesepele bertanya kabar. Seolah-olah ketika aku menulisnya, aku pingin tau kabar orang beneran. Tapi beneran kok. 3 bulan memutuskan untuk berhenti menulis hanya karena memang pingin berhenti memikirkan sesuatu (di luar hal-hal yang memang perlu untuk dipikirkan). 

    Its such a long journey. Padahal  cuma 3 bulan. Cuma 90 hari. Tidak terasa memang, tapi setelah direnungi, ternyata aku telah menjalani banyak hal. Aku telah melewati banyak pergolakan emosi, perjalanan memahami dan beradaptasi, juga melalui banyak pembelajaran untuk menerima sesuatu dengan ikhlas hati. Selalu ya, pada akhirnya hidup hanya tentang penerimaan. Bagaimana kamu menerima ujian yang Allah berikan dengan ikhlas. Bagaimana kemudian akhirnya penerimaan itu berganti menjadi perasaan memaafkan yang tulus dari hati. 

    Tulisan kali ini, bukan opini tentang kejadian apapun. Karena jujur, untuk sekadar memikirkan berita-berita terkini aja, aku sudah kehabisan tenaga duluan. Ini cuma sharing biasa, untuk aku jadikan reminder di kemudian hari, just in case aku lupa, aku telah tamat melewati stage ini. 

    Awal Agustus, aku harus berangkat KKN. Itu semacam big deal buatku karena for some reason, beradaptasi di lingkungan baru bukan keahlianku sama sekali. Bisa dibilang energiku sudah habis bahkan sebelum berangkat, hanya karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk selama 40 hari tinggal di kota orang bersama dengan orang yang bahkan tidak ku kenal. Jangan ditiru. Bukan seperti itu cara memulai pengalaman seru.

    Sebelum aku benar-benar berangkat KKN, aku harus melewati fase dimana aku merasa dikhianati dan dipermainkan oleh seseorang. Tiba-tiba aku mengetahui perilaku buruk seseorang yang sudah aku percaya bertahun-tahun. Rasanya marah, kecewa dan sedih ke diri sendiri. Kenapa ya, aku selalu terlalu polos dalam melihat dan menilai orang. Kecewa, kenapa aku bisa salah menilai orang. Sedih, kenapa sepertinya aku terlalu bodoh dalam menilai orang. 

    Pada saat itu, aku nggak bisa nangis. Karena sudah h-1 berangkat KKN. Tentu saja kan? tidak mungkin aku memulai sesuatu dengan kesedihan. Aku memilih untuk menahan. Meski pada akhirnya nggak bisa. Ujung-ujungnya, aku memutuskan untuk marah-marah langsung ke orangnya, dengan kalimat yang aku harap ketika dia membacanya, dia akan merasa sakit hati. Kalau kamu orang yang kumaksud, aku minta maaf ya. Pada saat itu, aku merasa nggak adil kalau hanya aku yang sakit hati. 

    Everythings happen for a reason. Dulu, aku tidak pernah benar-benar mengamini kalimat tersebut. Tapi sekarang aku sadar, bahwa memang akan selalu ada alasan kenapa sesuatu di dunia ini terjadi. Kenapa aku harus tau di detik-detik ketika aku akan berangkat KKN, kenapa harus kamu yang menjadi salah satu orang yang mempermainkanku. Aku percaya bahwa semua itu, tidak serta merta terjadi begitu saja tanpa ada gantinya.

    Mungkin aku harus dipermainkan oleh orang, untuk menyadarkanku bahwa memang sebenarnya di dunia ini tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan selain diri sendiri. Mungkin alasan aku harus dikhianati oleh seseorang untuk kemudian Allah hadirkan yang lebih baik lagi untuk mengisi kekosongan posisi yang kamu tinggalkan. 

    Setelah kepergianmu, aku banyak mendapat teman-teman yang baik. Aku bertemu teman-teman KKN yang seru. Aku disatukan dengan teman-teman PLP yang menyenangkan. Aku dipertemukan dengan pamong dan DPL PLP yang menyayangi aku. Bahkan, aku mendapatkan murid-murid yang pintar dan lucu. Tuhan selalu adil pada akhirnya. Aku kehilangan 1, diganti oleh 1000 yang lebih baik. Mungkin memang, sampai detik ini sepertinya aku belum bisa menemukan pasangan pengganti. Tapi, rezeki-rezeki yang aku terima, keberkahan yang membersamai langkahku selama 3 bulan ini, sudah lebih dari cukup untuk menggantikan kamu di sini. 



    Aku percaya, setelah aku pergi, kamu juga dapat ganti yang lebih baik. Dapat pengalaman-pengalaman seru dan keberkahan yang banyak sekali. Juga melewati banyak stage yang memberi kamu pelajaran-pelajaran berarti. 

    Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk menerima dan acknowledge bahwa diriku juga bukan orang baik. Aku yakin ada alasan kenapa kamu harus melakukan itu. Sudah pasti aku salah dan kurang dalam banyak hal. Jadi, rasanya kurang adil kalau aku menjudge kamu orang jahat hanya karena kamu sudah mempermainkan aku. Kamu tetap orang baik buatku, walau tentu saja baik dalam penilaian yang berbeda.

    Setelah itu semua, aku belajar untuk melihat sesuatu nggak hanya dari sisi hitam dan putih. Selalu ada grey area di setiap keputusan, di setiap perilaku, di setiap kejadian. Apapun itu. Jadinya, selalu ada celah untuk aku bisa menerima dan memaafkan. Aku percaya salah satu kunci dari ketentraman hidup adalah memaafkan. Berkat kejadian itu, akhirnya aku berhasil mendapat 1 kunci menuju hidup yang tentram. Terima kasih ya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Belakangan ini, aku jadi sering mempertanyakan semua hal yang sudah aku lakukan. Aku jadi sering merenungi perjalanan-perjalanan tidak terduga yang sudah aku lewati. Aku jadi mencari-cari lagi, sebenarnya dari kesemua pengalaman itu, harusnya membentuk aku menjadi pribadi yang seperti apa sih? Akan menjadi seperti apa aku 5 atau 10 tahun lagi?


 

Dari dulu, aku selalu merencanakan setiap langkah yang akan kuambil dengan hati-hati. Keputusan-keputusan yang akan kujalani selalu melewati pertimbangan matang dan beragam perhitungan. 

Tapi lucunya, semakin aku merencanakan, semakin tidak tepat sasaran pada akhirnya. Contoh, untuk keputusan besar pertama yang aku rencanakan dan ternyata punya ending yang sangat tidak tertebak sama sekali: masuk SMA. Waktu SMP, aku masih ingat dengan jelas kemana aku ingin melanjutkan jenjang pendidikan ku ketika lulus SMP. Dengan berbagai pertimbangan, dengan banyak perhitungan, dan persiapan tentunya, aku membulatkan tekad, aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMA X.

Karena aku tidak memiliki kemampuan dalam akademik maupun non akademik sementara SMA tujuanku adalah salah satu SMA favorit, tentu aku harus mempersiapkan itu 2x lebih serius dari anak-anak lainnya. Pada saat itu karena benar-benar ingin masuk di SMA X, aku bahkan mengikuti les di sebuah lembaga mainstream terkenal pada zamannya.  

Singkat cerita, saat semua sudah kulakukan, saat aku sudah memasuki masa-masa ujian nasional, saat itulah aku diberitahu bahwa selepas SMP aku akan pindah ke luar kota. Dan itu adalah keputusan final. Tidak akan berubah. Tidak bisa diganggu gugat.

Lucu sekali. Rasanya aku selalu dipermainkan oleh hidup. Karena dengan begitu sama artinya apa yang kupersiapkan sia-sia saja semuanya. 

Dari situ, pelajaran hidup yang bisa kuambil adalah bahwa untuk melepaskan kemudi, dan membiarkannya berjalan tanpa GPS, tanpa memikirkan akan kemana akhirnya, kadang-kadang bisa menjadi opsi yang paling menenangkan. 

Karena kalau dipikir-pikir, kuasa Tuhan itu nyata kok. Semua yang terjadi pada hidup tiap individu sudah digariskan. Lepaskan saja. Jangan dipikirkan. Jalani dengan sebaik mungkin. Pada akhirnya toh kita akan sampai juga. Tidak mungkin tersesat apalagi salah arah. Karena sebaik-baik GPS dalam hidup manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa.  

Seringkali yang terjadi, ketika kita merencanakan sesuatu, jalan hidup kita justru menjadi rumit. Padahal tinggal lurus-lurus saja, tapi karena kita sok tau, kita justru ambil jalan putar balik. Harusnya lurus, kita malah putar kanan. Harusnya kita bisa sampai, justru stuck di tengah jalan karena rencana-rencana sok tau kita. 

Mungkin, sesekali memang perlu direncanakan, untuk punya gambaran apa yang harus dipersiapkan.. sisanya biar kuasa Tuhan yang menentukan. Karena toh jalan hidup kita sedari awal memang sudah diatur oleh Nya.  

Prinsip inilah yang akhirnya aku pakai saat ingin mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupku.

Aku selalu percaya, kalau Tuhan sebaik-baiknya pemilik rencana.

Pun termasuk jodoh, maut, rezeki adalah bentuk ketetapan Tuhan yang tidak akan aku ingkari sampai kapanpun.

Makanya, kalau ada orang bertanya "kamu mau nikah umur berapa?" ya... terserah Tuhan. Mau besok lusa, lima atau sepuluh tahun lagi, kapan pun itu: terserah Tuhan, Aku sendiri tidak punya gambaran kira-kira di usia berapa aku akan siap untuk masuk ke jenjang pernikahan. Aku juga bukan perempuan konservatif yang mengamini konsep "wanita kadaluwarsa". Jadi aku tidak peduli di umur berapa aku akan menikah karena yang tahu pasti kapan aku siap sekali lagi adalah Tuhan.

Termasuk soal memiliki atau tidak memiliki anak. Buatku, memiliki anak itu sama konsepnya dengan bentuk rezeki yang lainnya. Kalau waktunya punya ya akan lahir juga akhirnya. Tapi untuk anak, sebetulnya aku punya pertimbangan terms & condition nya sendiri. Tapi lagi; aku tidak akan memaksakan kehendak untuk punya anak. Aku tidak akan menargetkan punya anak di umur berapa. Aku tidak akan memaksakan apa-apa karena ini kuasa Tuhan. 

Ada banyak titik buta dalam hidup. Kita lebih banyak tidak tahunya tentang masa depan. Kita tidak bisa meraba ada jurang sedalam apa di depan sana. Karenanya, melepaskan kemudi bisa jadi pilihan yang tepat. Tentunya, tidak sepenuhnya memasrahkan karena untuk berjalan ke depan, kita juga perlu usaha dan persiapan. Tapi.. tidak terlalu memikirkan dan menargetkan adalah win-win solution atas banyak ketidaktahuan kita tentang masa depan. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Di zaman teknologi seperti sekarang, rasa-rasanya kita sebagai manusia kehilangan privasi atas diri kita sendiri. Segala publisitas yang terjadi di media seperti hal wajar bahkan menjadi sebuah keharusan. Makan di mall? Update di story instagram dulu. Mampir ke toko buku? Jangan lupa bukunya di foto, buat rapihin feed instagram. Jalan-jalan ke luar kota? Nge vloglah, untuk konten youtube. Rasanya, kegiatan yang dilakukan manusia zaman ini kebanyakan bertujuan untuk memuaskan hasrat update semata.

Gak ada yang salah dengan itu semua. Kegemaran posting-posting ini menjadi berbahaya kalau ternyata konten tersebut dapat memancing keributan. Posting sesuatu yang menyangkut SARA misalnya. Buat konten yang bertujuan untuk menjatuhkan kelompok tertentu contohnya. Hal-hal negatif itu gak sebaiknya dengan sengaja di posting di sosial media, karena ya buat apa? 

Tapi, hidup itu penuh dengan batu sandungan memang. Kadang kita sudah melangkah dengan penuh kehati-hatian, tetap aja kesandung, kepleset, jatuh. Sama hal nya ketika kita memutuskan untuk bermain sosial media, sehati-hati apapun kita dalam menggunakannya, akan tetap ada aja hal-hal yang gak pernah kita duga. 

 
Sebagai contoh, meski kamu berusaha membangun personal branding yang baik sekali di sosial media, meski kamu  berusaha untuk menampilkan citra yang baik di hadapan netizen, akan tetap ada orang yang tiba-tiba membenci kamu hanya karena satu postingan yang kamu buat. Lucunya, mereka yang tiba-tiba membenci itu gak hanya berhenti di sana. Mereka akan mengirimi kamu banyak hate comment yang diselimuti kalimat "cuma mengingatkan kok".

Pertanyaannya, kenapa sih rasa benci itu bisa dengan mudahnya hadir di dalam diri kita? Kenapa orang bisa merasa berhak untuk menyampaikan kebencian mereka pada orang lain dengan dalih "hanya mengingatkan"

Pertama, mungkin orang bisa dengan mudah membenci orang lainnya karena dia merasa dia perlu menjadikan seseorang sebagai kambing hitam atas ketidakmampuannya dalam berbuat sesuatu. Dia (orang yang membenci) dengan segala rasa rendah dirinya akan merasa senang kalau dia menemukan kesalahan pada diri orang lain, sehingga untuk menutupi ketidakpercayaan diri yang ia miliki, alih-alih menyibukkan diri untuk terus memperbaiki kualitas hidupnya, dia malah "menyerang" orang lain atas kesalahan-kesalahan minor yang orang lain miliki.

Kedua, dia bisa jadi kesepian dan sedang mencari perhatian. Apalagi kalau dia gak punya kerjaan. 

Ketiga, dia mungkin sedang insecure dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang sedang memasuki masa-masa insecure seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika akhirnya dia menemukan fakta bahwa orang lain lebih baik dari dirinya, dia akan sibuk mencari-cari kekurangan orang tersebut. Saat ia menemukannya, dia akan menyuarakan kekurangan itu keras-keras dengan harapan orang lain akhirnya mengetahui kekurangan orang tersebut. Padahal untuk apa ya? Manusia kan memang bukan makhluk sempurna. Punya kekurangan bukan kejahatan yang patut dihakimi kan?

Dan masih banyak alasan lainnya, yang sebetulnya sepele dan gak penting sama sekali. 

Well, sepertinya banyak orang yang masih belum paham konsep tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebanyakan orang juga masih menaruh ekspektasi tinggi terhadap manusia lain, sehingga ketika akhirnya manusia-manusia ini menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ia miliki, orang lain merasa kecewa. Kecewa sebab ternyata tidak ada manusia yang mampu memenuhi ekspektasi mereka. 

Padahal, apasih yang kamu ekspektasikan dari manusia yang punya banyak kekurangan, punya emosi yang kompleks, dan punya pikiran yang gak tertebak? 

Kalau kata Juddy Hopps di Zootopia "We all have limitations, we all make mistakes" 

Kita terbiasa mencari orang berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Kita lupa, kalau kita pada akhirnya akan hidup berdampingan dengan kekurangan yang mereka punya juga. Seharusnya, dalam hal berteman; baik di sosial media maupun dunia nyata, usahakan untuk gak menaruh ekspektasi apa-apa. Usahakan untuk melihat kekurangan yang ia punya terlebih dahulu kemudian kamu analisis, apakah kekurangan tersebut bisa kamu toleransi atau enggak. Kalau enggak, ya tinggalkan. Gak perlu menghabiskan energi untuk "mengingatkan" karena aku yakin, tanpa diingatkan sebetulnya orang-orang itu tau apa kekurangan yang dia punyai. 

Kalau masih aja perasaan benci itu hadir bahkan setelah kamu merendahkan ekspektasimu terhadap dia, minimal tumbuhkan rasa simpati dalam dirimu. Tumbuhkan kesadaran agar jangan sampai kamu mengungkapkan rasa benci itu kepada orang tersebut. Karena, ungkapan benci yang kamu sampaikan boleh jadi menyakiti orang lain sebegitu dalamnya. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Disclaimer: topik kali ini bukan topik serius seperti biasanya.  

Belakangan, ada banyak pertanyaan yang mengusik pikiranku dan itu semua merusak gairahku dalam mengerjakan kegiatan (produktif) yang selama ini memang biasa kukerjakan. Pertanyaan pertama, aku tiba-tiba jadi memikirkan sejatinya hidupku akan ku dedikasikan untuk apa pada akhirnya? Kedua, apakah aku sudah cukup baik untuk bisa bersanding dengan banyak orang baik lainnya? Ketiga, apakah kebaikan yang kulakukan adalah murni tulus dari hati atau itu tendensi untuk membuktikan bahwa aku baik? Keempat, apakah pada akhirnya hidupku bisa mendatangkan kebermanfaatan untuk orang-orang di sekitarku? Kelima, aku mengamini fakta tidak ada yang kekal di dunia, meskipun demikian aku tidak bisa sepenuhnya mengikhlaskan kalau-kalau sesuatu yang kupunya pergi meninggalkanku pada akhirnya. Definisi ikhlas memangnya seperti apa? dan pertanyaan tidak penting lainnya yang terus berseliweran di kepalaku. Aku tidak punya jawabannya.. hingga detik ini. Aku cuma berharap suatu saat aku menemukan jawaban itu seiring dengan perjalanan-perjalanan hidupku. 

 


Aku juga jadi sering meragukan kapabilitas diriku sendiri. Aku jadi merasa, semua yang kulakukan tidak ada artinya. Hari-hari berjalan lambat dan rasanya seperti ada dementor-dementor sedang mengelilingiku alias HAMPA. 

Dementor di Harry Potter.
Dementor di Harry Potter
 

Entah kenapa, aku merasa performa hidupku menurun. Aku masih shalat 5 waktu dan berdoa seperti biasanya, tapi lagi-lagi pada saat setelah aku menyelesaikan ibadahku aku bertanya-tanya; shalatku ini apa artinya? Kenapa rasanya masih ada sesuatu yang kosong, ada part yang hilang entah tertinggal di mana. Ada yang terlewat dan aku baru menyadarinya. 

Di tengah-tengah kekosonganku, aku bersyukur aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendirian. Ada orang tua dan teman-temanku yang berbaik hati mengisi kekosongan itu. Meski aku tidak pernah benar-benar berbagi kesedihan, tapi at least aku punya orang yang bisa aku datangi kalau aku sudah mulai merasa tidak waras dan butuh untuk diajak bicara. Ada orang-orang yang bersedia berdiri di sampingku tanpa memperhitungkan apa-apa karena bahkan aku sendiri tidak tau kebermanfaatan apa yang bisa kuberikan untuk mereka. 

Ada Azzahra, yang meski tubuhnya jauh sekali terpisah jarak 1500 km tetapi hatinya ikut berada di sini, di sampingku, seperti dulu. Meski tidak 24/7 kita bisa saling mengisi, toh alasan aku belum benar-benar merasa kesepian karena aku tau ada azzahra di hidupku. Anjay.

Ada Riris, Icha yang selalu siap kapanpun aku pingin main dan menghabiskan waktu. Walau seringnya cuma bermalam di kos Riris atau mentok-mentok cari makan di Royal karena uang yang hampir tidak ada. 

Dan orang-orang baik lainnya, yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena akan jadi panjang dan membosankan. 

Kembali lagi, aku sangat amat menyadari kalau apa-apa yang kupunya, suatu saat bisa pergi dan berganti. Pun termasuk orang-orang yang ada di sekitarku saat ini. Mungkin besok atau lusa, kita yang akrab pada akhirnya berpisah. Keyakinan itu, membuat aku terus mengupayakan space pada tiap hubungan, seakrab apapun aku dengan orang tersebut.

Tapi, aku menyadari kalau aku terus-terusan memikirkan aku akan ditinggalkan (atau meninggalkan), pada akhirnya pikiran itulah yang membatasi aku menjadi teman yang baik untuk mereka. Pada akhirnya, aku menjadi perhitungan dan sebagainya. 

Jadi saat ini aku memutuskan untuk meninggalkan pikiran tersebut. 

Mungkin 5 atau 10 tahun lagi, saat aku membaca ulang postingan blog ini, semua sudah berubah. Tapi paling tidak, ketika aku membaca postingan ini aku akan ingat aku pernah dipertemukan dengan banyak orang yang baik sekali.

Aku temani kalian dengan hati dan doa dari sini. Semoga, sama seperti aku; kalian juga akan selalu dipertemukan dengan orang baik lainnya. Terima kasih, ya. 21 tahun aku hidup rasanya aku hampir belum pernah bertemu dengan orang-orang sebaik kalian.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada suatu hari yang cerah, matahari bersinar terang di antara lalu lalang burung terbang. Harusnya, hari tersebut menjadi salah satu hari terbaik yang dimiliki oleh Raisa sampai kemudian ibunya mendatanginya dengan wajah kusut dan menjelaskan bahwa mereka berdua harus segera meninggalkan rumah ini mengingat ia dan sang ayah resmi bercerai. Mengetahui fakta tersebut, Raisa kaget dan tidak terima. Ia tidak mau meninggalkan rumah yang menjadi tempat ia tumbuh bersama banyak memori indah di dalamnya. Sekali lagi ibunya berusaha menjelaskan bahwa keputusan yang diambil sudah bulat dan ini yang terbaik. Sejak saat itu, setiap kali matahari naik memamerkan cahaya kuningnya yang menyilaukan mata, Raisa membencinya.

 
   

Perceraian seperti tragedi menyeramkan yang menjadi alternatif solusi paling dihindari dalam masalah rumah tangga. Walaupun begitu, faktanya tingkat perceraian masih relatif tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, angka perceraian di Indonesia pada tahun 2020 menyentuh 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

            Di balik banyaknya kasus tersebut, masih banyak orang yang sibuk menghakimi keputusan orang tua yang memutuskan bercerai padahal tidak semua kasus perceraian membawa dampak negatif dalam kehidupan anak. Ketika mendengar berita tentang perceraian, pernahkah kamu berpikir bahwa bisa saja sebetulnya baik pihak suami maupun pihak istri sama-sama sudah merencanakan bagaimana selanjutnya kehidupan mereka di masa depan, bagaimana mengajarkan dan menjaga anak ketika mereka sudah tidak hidup dalam satu rumah lagi, bagaimana cara memenuhi kebutuhan sang anak baik secara materi maupun secara psikis?

            Well, perceraian tidak selalu memiliki akhir cerita yang buruk. Justru bukankah hebat ketika pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa hubungannya sudah tak lagi sehat dan memang harus diakhiri, maka mereka mengakhirinya dengan yakin dan berani. Banyak sekali kehidupan rumah tangga yang tidak sehat memaksa agar semua terlihat seolah baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya dengan alasan kasian anak dan lain sebagainya. Padahal, mereka tidak bisa bercerai karena memang tidak bisa hidup sendiri-sendiri alias sudah terlanjur bergantung pada pasangan.

            Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk bisa hidup secara mandiri tanpa didampingi oleh pasangan lagi. Tidak semua pasangan memiliki keberanian untuk menyudahi hubungan toxic mereka dengan alasan kasian pada anak padahal membesarkan anak dalam kondisi hubungan yang tidak sehat juga tidak baik. Kasus perceraian di Indonesia memang banyak, tetapi masih banyak lagi pasangan yang mempertahankan pernikahan mereka dengan alasan masih bisa diperbaiki padahal jalan satu-satunya yang tersisa hanya perceraian saja. Mari kita apresiasi seluruh keberanian yang sudah dimiliki oleh orang-orang yang kini menyandang status single parent. Mari kita hormati dan hargai keputusan pasangan yang telah resmi memutuskan bercerai. Mereka telah berani menyelamatkan diri dan keluarga kecil mereka dari kemungkinan yang paling buruk.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose