• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

Belakangan ini, aku jadi sering mempertanyakan semua hal yang sudah aku lakukan. Aku jadi sering merenungi perjalanan-perjalanan tidak terduga yang sudah aku lewati. Aku jadi mencari-cari lagi, sebenarnya dari kesemua pengalaman itu, harusnya membentuk aku menjadi pribadi yang seperti apa sih? Akan menjadi seperti apa aku 5 atau 10 tahun lagi?


 

Dari dulu, aku selalu merencanakan setiap langkah yang akan kuambil dengan hati-hati. Keputusan-keputusan yang akan kujalani selalu melewati pertimbangan matang dan beragam perhitungan. 

Tapi lucunya, semakin aku merencanakan, semakin tidak tepat sasaran pada akhirnya. Contoh, untuk keputusan besar pertama yang aku rencanakan dan ternyata punya ending yang sangat tidak tertebak sama sekali: masuk SMA. Waktu SMP, aku masih ingat dengan jelas kemana aku ingin melanjutkan jenjang pendidikan ku ketika lulus SMP. Dengan berbagai pertimbangan, dengan banyak perhitungan, dan persiapan tentunya, aku membulatkan tekad, aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMA X.

Karena aku tidak memiliki kemampuan dalam akademik maupun non akademik sementara SMA tujuanku adalah salah satu SMA favorit, tentu aku harus mempersiapkan itu 2x lebih serius dari anak-anak lainnya. Pada saat itu karena benar-benar ingin masuk di SMA X, aku bahkan mengikuti les di sebuah lembaga mainstream terkenal pada zamannya.  

Singkat cerita, saat semua sudah kulakukan, saat aku sudah memasuki masa-masa ujian nasional, saat itulah aku diberitahu bahwa selepas SMP aku akan pindah ke luar kota. Dan itu adalah keputusan final. Tidak akan berubah. Tidak bisa diganggu gugat.

Lucu sekali. Rasanya aku selalu dipermainkan oleh hidup. Karena dengan begitu sama artinya apa yang kupersiapkan sia-sia saja semuanya. 

Dari situ, pelajaran hidup yang bisa kuambil adalah bahwa untuk melepaskan kemudi, dan membiarkannya berjalan tanpa GPS, tanpa memikirkan akan kemana akhirnya, kadang-kadang bisa menjadi opsi yang paling menenangkan. 

Karena kalau dipikir-pikir, kuasa Tuhan itu nyata kok. Semua yang terjadi pada hidup tiap individu sudah digariskan. Lepaskan saja. Jangan dipikirkan. Jalani dengan sebaik mungkin. Pada akhirnya toh kita akan sampai juga. Tidak mungkin tersesat apalagi salah arah. Karena sebaik-baik GPS dalam hidup manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa.  

Seringkali yang terjadi, ketika kita merencanakan sesuatu, jalan hidup kita justru menjadi rumit. Padahal tinggal lurus-lurus saja, tapi karena kita sok tau, kita justru ambil jalan putar balik. Harusnya lurus, kita malah putar kanan. Harusnya kita bisa sampai, justru stuck di tengah jalan karena rencana-rencana sok tau kita. 

Mungkin, sesekali memang perlu direncanakan, untuk punya gambaran apa yang harus dipersiapkan.. sisanya biar kuasa Tuhan yang menentukan. Karena toh jalan hidup kita sedari awal memang sudah diatur oleh Nya.  

Prinsip inilah yang akhirnya aku pakai saat ingin mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupku.

Aku selalu percaya, kalau Tuhan sebaik-baiknya pemilik rencana.

Pun termasuk jodoh, maut, rezeki adalah bentuk ketetapan Tuhan yang tidak akan aku ingkari sampai kapanpun.

Makanya, kalau ada orang bertanya "kamu mau nikah umur berapa?" ya... terserah Tuhan. Mau besok lusa, lima atau sepuluh tahun lagi, kapan pun itu: terserah Tuhan, Aku sendiri tidak punya gambaran kira-kira di usia berapa aku akan siap untuk masuk ke jenjang pernikahan. Aku juga bukan perempuan konservatif yang mengamini konsep "wanita kadaluwarsa". Jadi aku tidak peduli di umur berapa aku akan menikah karena yang tahu pasti kapan aku siap sekali lagi adalah Tuhan.

Termasuk soal memiliki atau tidak memiliki anak. Buatku, memiliki anak itu sama konsepnya dengan bentuk rezeki yang lainnya. Kalau waktunya punya ya akan lahir juga akhirnya. Tapi untuk anak, sebetulnya aku punya pertimbangan terms & condition nya sendiri. Tapi lagi; aku tidak akan memaksakan kehendak untuk punya anak. Aku tidak akan menargetkan punya anak di umur berapa. Aku tidak akan memaksakan apa-apa karena ini kuasa Tuhan. 

Ada banyak titik buta dalam hidup. Kita lebih banyak tidak tahunya tentang masa depan. Kita tidak bisa meraba ada jurang sedalam apa di depan sana. Karenanya, melepaskan kemudi bisa jadi pilihan yang tepat. Tentunya, tidak sepenuhnya memasrahkan karena untuk berjalan ke depan, kita juga perlu usaha dan persiapan. Tapi.. tidak terlalu memikirkan dan menargetkan adalah win-win solution atas banyak ketidaktahuan kita tentang masa depan. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Semua orang selalu berkata kalau ingin sebuah hubungan berjalan baik dan langgeng, yang harus pasangan itu lakukan adalah menjaga komunikasi dan kepercayaan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah komunikasi dan kepercayaan saja cukup untuk melindungi sebuah hubungan? Apakah dengan komunikasi yang baik saja cukup untuk mencegah pasangan berselingkuh? Apakah hanya dengan percaya saja sudah bisa menjamin pasangan tidak akan berselingkuh? Tidak. 

Seseorang akan tetap berselingkuh meski komunikasi dan kepercayaan yang dibangun sudah kuat. Sebuah hubungan tetap bisa berakhir dengan alasan bosan meski komunikasi dan kepercayaan sudah terbentuk dengan sempurna. 


Aku sudah sangat familiar dengan cerita perselingkuhan dan drama-drama lain dalam sebuah hubungan. Suatu hari, temanku pernah bercerita jika ia diselingkuhi oleh pasangannya. Padahal aku tau dengan pasti bagaimana baiknya pola komunikasi mereka. Aku juga pernah mendapati temanku mengakhiri hubungannya hanya karena ia merasa stuck dan jenuh. Padahal, mereka sering bertemu dan hubungan mereka selalu berjalan seru. 

Pada kasus lain, temanku berperan sebagai orang yang berselingkuh dalam hubungannya. Dia bilang kalau dia bosan dengan pacarnya. Aku bisa membayangkan jika pasangannya menaruh kepercayaan yang dalam kepada temanku ini. Tentu saja, karena selama berpacaran, ia mencitrakan diri sebagai seorang yang alim dan setia. Siapa yang tidak akan percaya?

 

Narasi-narasi perselingkuhan dan drama lainnya dalam sebuah hubungan cukup membuatku trauma duluan. Meskipun aku belum pernah mengalaminya secara langsung. Bukti-bukti nyata tersebut diperparah dengan fakta bahwa manusia sejatinya adalah eksistensi yang cukup kompleks. Tetapi akhirnya dari fenomena-fenomena tersebut aku mengambil kesimpulan jika sekadar menjaga komunikasi dan saling percaya bukan jaminan hubunganmu akan baik-baik saja.

Menurutku, dalam menjalin komitmen bentuk apapun, yang diperlukan adalah tanggung jawab. Kepercayaan saja tanpa diiringi tanggung jawab tidak akan menjamin apa-apa. Komunikasi saja tanpa dibarengi dengan tanggung jawab juga tidak akan menjamin hubungan akan berjalan dengan baik.

Komunikasi tanpa rasa tanggung jawab di dalamnya sama saja bohong. Orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab, dalam setiap komunikasinya bisa saja ia menyelipkan banyak dusta tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, mungkin kamu merasa komunikasimu dan pasangan berjalan lancar, namun jika itu tidak dilandasi oleh rasa tanggung jawab, kamu bahkan tidak akan tau apakah dia berbohong atau tidak, apakah ada yang disembunyikan atau tidak.

Pun demikian dengan kepercayaan. Tanpa rasa tanggung jawab, kepercayaan yang kamu berikan tentu akan dipermainkan. Dia dengan sadar memanfaatkan kepercayaanmu untuk melakukan hal-hal yang dia inginkan. Seringkali yang terjadi, semakin percaya kita terhadap pasangan semakin besar kemungkinan kita akan diselingkuhi nantinya.

Dalam menjalin hubungan, menurutku pola pikir yang seharusnya terbentuk adalah; aku punya tanggung jawab untuk menjadi lebih bisa dipercaya, dan dia punya tanggung jawab untuk belajar percaya. Kalau ternyata yang terjadi adalah hal yang sebaliknya; ia terlalu percaya. Maka aku punya tanggung jawab untuk tidak merusak kepercayaannya, dan dia punya tanggung jawab untuk tidak mudah memecah kepercayaannya padaku.

Kuncinya adalah: tanggung jawab.

Pastikan kamu adalah orang yang bertanggung jawab agar kamu dipertemukan dengan orang yang sama bertanggung jawabnya. 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kalian pernah melihat status orang di sosial media seperti "aduh aku gendutan ni sekarang" pada postingan photo di mana dia terlihat kurus dan tidak ada gendut-gendutnya sama sekali. Atau ketika kamu sedang curhat, temanmu merespon curhatanmu dengan kalimat "masih mending kamu ditanggung orang tua, lah aku? Semua harus usaha sendiri, ganti iphone kemarin juga aku harus usaha sendiri." Nah fenomena itu disebut humble bragging.

Humble bragging adalah keadaan di mana seseorang dengan sengaja ingin pamer tetapi membungkusnya dengan berbagai macam cerita menyedihkan. Istilah indo nya, humble bragging adalah jenis orang yang senang merendah untuk meroket.  


 

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/444324/mengenal-humblebragging-merendah-untuk-pamer

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. 

Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. 

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Tanpa sadar, sebetulnya semua orang pernah mengeluarkan kalimat-kalimat humble brag. Termasuk aku, tidak terkecuali.

Contoh-contoh kalimat humble brag

"Aduh,aku tu gabisa ngerjainnya soalnya aku gapinter, orang aku cuma ranking 2 dari 100 siswa di sekolah"

"Kok bisa ya aku dapat IPK tinggi, padahal aku cuma tidur doang tiap ada kelas."

"Yaelah gajiku mah ga gede, buat beli starbuck aja cuma bisa 4x dalam seminggu."

dll.


 

Celakanya, kadang kita tidak menyadari kalau sudah melakukan humble bragging. Justru yang sadar seringkali adalah lawan bicara yang akhirnya ilfeel duluan ke kita. Di sosial media, kita akan menemukan banyak sekali jenis-jenis humble brag ini. Biasanya, orang-orang yang sering melakukan humble brag adalah jenis orang yang membutuhkan validasi bahwa dia bisa dan dia hebat. 

That being sad, pelaku humble bragging ini kadang sampai pada tahap mati rasa. Situasi menyedihkan apa saja akan dia gunakan untuk menutupi niat pamer yang dia punya. Tidak peduli apakah kalimat yang ia gunakan menyakiti orang atau tidak, yang dia inginkan hanya menunjukkan kehebatan dan mendapatkan pujian melalui narasi sedih yang ia rangkai dengan baik.

Padahal, kalau mau merenungi sedikit, orang lain toh tidak peduli pada pencapaianmu. Orang lain tidak akan peduli sebanyak apa kelebihan yang kamu miliki. Mereka baru akan mendengarkan dengan seksama kalau yang kamu coba sampaikan adalah kekurangan-kekurangan yang kamu punya. 


 

 

 

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/444324/mengenal-humblebragging-merendah-untuk-pamer
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Di zaman teknologi seperti sekarang, rasa-rasanya kita sebagai manusia kehilangan privasi atas diri kita sendiri. Segala publisitas yang terjadi di media seperti hal wajar bahkan menjadi sebuah keharusan. Makan di mall? Update di story instagram dulu. Mampir ke toko buku? Jangan lupa bukunya di foto, buat rapihin feed instagram. Jalan-jalan ke luar kota? Nge vloglah, untuk konten youtube. Rasanya, kegiatan yang dilakukan manusia zaman ini kebanyakan bertujuan untuk memuaskan hasrat update semata.

Gak ada yang salah dengan itu semua. Kegemaran posting-posting ini menjadi berbahaya kalau ternyata konten tersebut dapat memancing keributan. Posting sesuatu yang menyangkut SARA misalnya. Buat konten yang bertujuan untuk menjatuhkan kelompok tertentu contohnya. Hal-hal negatif itu gak sebaiknya dengan sengaja di posting di sosial media, karena ya buat apa? 

Tapi, hidup itu penuh dengan batu sandungan memang. Kadang kita sudah melangkah dengan penuh kehati-hatian, tetap aja kesandung, kepleset, jatuh. Sama hal nya ketika kita memutuskan untuk bermain sosial media, sehati-hati apapun kita dalam menggunakannya, akan tetap ada aja hal-hal yang gak pernah kita duga. 

 
Sebagai contoh, meski kamu berusaha membangun personal branding yang baik sekali di sosial media, meski kamu  berusaha untuk menampilkan citra yang baik di hadapan netizen, akan tetap ada orang yang tiba-tiba membenci kamu hanya karena satu postingan yang kamu buat. Lucunya, mereka yang tiba-tiba membenci itu gak hanya berhenti di sana. Mereka akan mengirimi kamu banyak hate comment yang diselimuti kalimat "cuma mengingatkan kok".

Pertanyaannya, kenapa sih rasa benci itu bisa dengan mudahnya hadir di dalam diri kita? Kenapa orang bisa merasa berhak untuk menyampaikan kebencian mereka pada orang lain dengan dalih "hanya mengingatkan"

Pertama, mungkin orang bisa dengan mudah membenci orang lainnya karena dia merasa dia perlu menjadikan seseorang sebagai kambing hitam atas ketidakmampuannya dalam berbuat sesuatu. Dia (orang yang membenci) dengan segala rasa rendah dirinya akan merasa senang kalau dia menemukan kesalahan pada diri orang lain, sehingga untuk menutupi ketidakpercayaan diri yang ia miliki, alih-alih menyibukkan diri untuk terus memperbaiki kualitas hidupnya, dia malah "menyerang" orang lain atas kesalahan-kesalahan minor yang orang lain miliki.

Kedua, dia bisa jadi kesepian dan sedang mencari perhatian. Apalagi kalau dia gak punya kerjaan. 

Ketiga, dia mungkin sedang insecure dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang sedang memasuki masa-masa insecure seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika akhirnya dia menemukan fakta bahwa orang lain lebih baik dari dirinya, dia akan sibuk mencari-cari kekurangan orang tersebut. Saat ia menemukannya, dia akan menyuarakan kekurangan itu keras-keras dengan harapan orang lain akhirnya mengetahui kekurangan orang tersebut. Padahal untuk apa ya? Manusia kan memang bukan makhluk sempurna. Punya kekurangan bukan kejahatan yang patut dihakimi kan?

Dan masih banyak alasan lainnya, yang sebetulnya sepele dan gak penting sama sekali. 

Well, sepertinya banyak orang yang masih belum paham konsep tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebanyakan orang juga masih menaruh ekspektasi tinggi terhadap manusia lain, sehingga ketika akhirnya manusia-manusia ini menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ia miliki, orang lain merasa kecewa. Kecewa sebab ternyata tidak ada manusia yang mampu memenuhi ekspektasi mereka. 

Padahal, apasih yang kamu ekspektasikan dari manusia yang punya banyak kekurangan, punya emosi yang kompleks, dan punya pikiran yang gak tertebak? 

Kalau kata Juddy Hopps di Zootopia "We all have limitations, we all make mistakes" 

Kita terbiasa mencari orang berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Kita lupa, kalau kita pada akhirnya akan hidup berdampingan dengan kekurangan yang mereka punya juga. Seharusnya, dalam hal berteman; baik di sosial media maupun dunia nyata, usahakan untuk gak menaruh ekspektasi apa-apa. Usahakan untuk melihat kekurangan yang ia punya terlebih dahulu kemudian kamu analisis, apakah kekurangan tersebut bisa kamu toleransi atau enggak. Kalau enggak, ya tinggalkan. Gak perlu menghabiskan energi untuk "mengingatkan" karena aku yakin, tanpa diingatkan sebetulnya orang-orang itu tau apa kekurangan yang dia punyai. 

Kalau masih aja perasaan benci itu hadir bahkan setelah kamu merendahkan ekspektasimu terhadap dia, minimal tumbuhkan rasa simpati dalam dirimu. Tumbuhkan kesadaran agar jangan sampai kamu mengungkapkan rasa benci itu kepada orang tersebut. Karena, ungkapan benci yang kamu sampaikan boleh jadi menyakiti orang lain sebegitu dalamnya. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
For your information, bagi yang belum tahu MLM adalah singkatan dari multilevel marketing di mana salah satu sistem marketing yang ditawarkan bertujuan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya melalui biaya masuk anggota baru. Sebagai upline semakin banyak anggota atau downline yang berhasil kamu tarik, semakin banyak pula keuntungan yang akan kamu dapatkan. 
 
Sistem MLM ini sering diilustrasikan dengan gambar piramida; tajam ke atas, tumpul ke bawah. Padahal sistem MLM yang demikian dinilai sangat merugikan, khususnya untuk anggota-anggota baru. Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 Pasal 9 tentang Perdagangan juga telah melarang pelaku usaha distribusi untuk menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan barang. NU pun mengakui bahwa bisnis MLM adalah bisnis haram dan MUI mengamininya.
 

 
Layaknya MLM, penegakan hukum di Indonesia tanpa sadar juga mengikuti sistem keuntungan berjenjang tersebut. Mari kita analogikan petinggi negara sebagai upline dan rakyat biasa sebagai downline.  Salah satu contoh kasus yang mengindikasikan bahwa praktik penegakan hukum di Indonesia membawa keuntungan bagi “upline” adalah lolosnya koruptor dana bansos dari tuntutan jerat hukum. Ketua DPRD Bengkalis, Heru Wahyudi hanya dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara dari tuntutan awal delapan tahun enam bulan karena telah melakukan korupsi dana bansos sebanyak 31 M.  
 
Sementara itu, di Bangkalan pada tanggal lima bulan 10 lalu ditemukan pria dibakar hidup-hidup oleh massa karena diduga melakukan pencurian. Dilansir dari jatim.inews.id, korban pembakaran menurut pihak kepolisian setempat merupakan residivis pencurian. Hanya karena diduga telah melakukan aksi pencurian, warga dengan tega membakarnya hidup-hidup. Jika di bandingkan dengan hukuman yang diterima oleh koruptor Bengkalis tadi, tentu saja hukuman yang diterima pemuda di Bangkalan ini sangat tidak adil. Kasus ketidakadilan hukum lainnya yang sempat viral di sosial media adalah kasus nenek Minah yang dihukum satu bulan 15 hari karena mencuri buah kakao. 
 
Tidak bisa dipungkiri keistimewaan hukum yang diterima oleh Ketua DPRD Bengkalis tersebut merupakan bagian privilege yang juga diterima oleh petinggi-petinggi negara lainnya. Remisi hukuman akan kamu peroleh dihitung dari seberapa banyak kamu mampu menarik “downline” untuk berpihak padamu dan membungkam bawahan-bawahan terkait. Bukan diukur dari seberapa banyak kontribusi dan kebaikan yang telah kamu lakukan untuk negara sebagai tersangka.
 
Atau dalam kasus spesial lainnya, para “upline” bahkan bisa lolos sama sekali dari hukuman yang harus dijalani. Seperti kasus korupsi dana bansos lainnya di daerah Kabupaten Bandung Barat. Dilansir dari liputan6.com dua terdakwa divonis tidak bersalah oleh Majelis Hakim meskipun keduanya mengaku telah melakukan aksi korup. Saya sungguh tidak mengerti dengan pola pikir koruptor dan pihak terkait yang terlibat dalam penanganan hukuman untuk mereka. Bagi saya; tidak perlu menjadi ahli politik dan agama untuk mengerti tindakan mengambil kesempatan di atas banyak penderitaan orang adalah hal jahat yang nyata tidak termaafkan. 
 
Mari kita berandai-andai sejenak. Jika nenek Minah adalah ketua DPRD dan melakukan aksi pencurian tiga biji buah kakao, apakah nenek Minah tetap akan disidang dan dijatuhi hukuman bui? Barangkali yang terjadi justru tindakan nenek Minah dianggap khilaf dan tidak diperhitungkan sama sekali bukan? Wong korupsi 31 M saja hanya mendapat hukuman 1 tahun penjara.
 
Sungguh, bukankah praktik penegakan hukum di Indonesia sudah menyadur sistem multilevel marketing yang diharamkan oleh MUI? Semakin tinggi posisimu, semakin menguntungkan nasib yang akan kamu terima, bahkan dalam kondisi paling sial sekalipun, kamu akan tetap beruntung. Dan sungguh sial sekali untuk para “downline” sekalian yang menyandang status rakyat biasa; tidak memiliki backup baik harta, tahta, bahkan sekadar pejabat dalam keluarga.
 
Lalu langkah apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah? Tidak mungkin rakyat terus menunggu munculnya kesadaran dan niat baik dari petinggi negara untuk menegakkan keadilan sesuai Pancasila sila ke-5 bukan? Mungkin pemerintah bisa mulai membuat rumusan UU terkait larangan skema piramida dalam penegakan hukum? Atau... barangkali MUI bisa mulai mengeluarkan fatwa haram untuk skema piramida dan kebijakan MLM dalam penegakan hukum di Indonesia.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Disclaimer: topik kali ini bukan topik serius seperti biasanya.  

Belakangan, ada banyak pertanyaan yang mengusik pikiranku dan itu semua merusak gairahku dalam mengerjakan kegiatan (produktif) yang selama ini memang biasa kukerjakan. Pertanyaan pertama, aku tiba-tiba jadi memikirkan sejatinya hidupku akan ku dedikasikan untuk apa pada akhirnya? Kedua, apakah aku sudah cukup baik untuk bisa bersanding dengan banyak orang baik lainnya? Ketiga, apakah kebaikan yang kulakukan adalah murni tulus dari hati atau itu tendensi untuk membuktikan bahwa aku baik? Keempat, apakah pada akhirnya hidupku bisa mendatangkan kebermanfaatan untuk orang-orang di sekitarku? Kelima, aku mengamini fakta tidak ada yang kekal di dunia, meskipun demikian aku tidak bisa sepenuhnya mengikhlaskan kalau-kalau sesuatu yang kupunya pergi meninggalkanku pada akhirnya. Definisi ikhlas memangnya seperti apa? dan pertanyaan tidak penting lainnya yang terus berseliweran di kepalaku. Aku tidak punya jawabannya.. hingga detik ini. Aku cuma berharap suatu saat aku menemukan jawaban itu seiring dengan perjalanan-perjalanan hidupku. 

 


Aku juga jadi sering meragukan kapabilitas diriku sendiri. Aku jadi merasa, semua yang kulakukan tidak ada artinya. Hari-hari berjalan lambat dan rasanya seperti ada dementor-dementor sedang mengelilingiku alias HAMPA. 

Dementor di Harry Potter.
Dementor di Harry Potter
 

Entah kenapa, aku merasa performa hidupku menurun. Aku masih shalat 5 waktu dan berdoa seperti biasanya, tapi lagi-lagi pada saat setelah aku menyelesaikan ibadahku aku bertanya-tanya; shalatku ini apa artinya? Kenapa rasanya masih ada sesuatu yang kosong, ada part yang hilang entah tertinggal di mana. Ada yang terlewat dan aku baru menyadarinya. 

Di tengah-tengah kekosonganku, aku bersyukur aku tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendirian. Ada orang tua dan teman-temanku yang berbaik hati mengisi kekosongan itu. Meski aku tidak pernah benar-benar berbagi kesedihan, tapi at least aku punya orang yang bisa aku datangi kalau aku sudah mulai merasa tidak waras dan butuh untuk diajak bicara. Ada orang-orang yang bersedia berdiri di sampingku tanpa memperhitungkan apa-apa karena bahkan aku sendiri tidak tau kebermanfaatan apa yang bisa kuberikan untuk mereka. 

Ada Azzahra, yang meski tubuhnya jauh sekali terpisah jarak 1500 km tetapi hatinya ikut berada di sini, di sampingku, seperti dulu. Meski tidak 24/7 kita bisa saling mengisi, toh alasan aku belum benar-benar merasa kesepian karena aku tau ada azzahra di hidupku. Anjay.

Ada Riris, Icha yang selalu siap kapanpun aku pingin main dan menghabiskan waktu. Walau seringnya cuma bermalam di kos Riris atau mentok-mentok cari makan di Royal karena uang yang hampir tidak ada. 

Dan orang-orang baik lainnya, yang tidak bisa kusebutkan satu per satu karena akan jadi panjang dan membosankan. 

Kembali lagi, aku sangat amat menyadari kalau apa-apa yang kupunya, suatu saat bisa pergi dan berganti. Pun termasuk orang-orang yang ada di sekitarku saat ini. Mungkin besok atau lusa, kita yang akrab pada akhirnya berpisah. Keyakinan itu, membuat aku terus mengupayakan space pada tiap hubungan, seakrab apapun aku dengan orang tersebut.

Tapi, aku menyadari kalau aku terus-terusan memikirkan aku akan ditinggalkan (atau meninggalkan), pada akhirnya pikiran itulah yang membatasi aku menjadi teman yang baik untuk mereka. Pada akhirnya, aku menjadi perhitungan dan sebagainya. 

Jadi saat ini aku memutuskan untuk meninggalkan pikiran tersebut. 

Mungkin 5 atau 10 tahun lagi, saat aku membaca ulang postingan blog ini, semua sudah berubah. Tapi paling tidak, ketika aku membaca postingan ini aku akan ingat aku pernah dipertemukan dengan banyak orang yang baik sekali.

Aku temani kalian dengan hati dan doa dari sini. Semoga, sama seperti aku; kalian juga akan selalu dipertemukan dengan orang baik lainnya. Terima kasih, ya. 21 tahun aku hidup rasanya aku hampir belum pernah bertemu dengan orang-orang sebaik kalian.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
    Dalam tradisi kehidupan bermasyarakat saat ini, kita cenderung menemukan fakta bahwa individu yang memiliki kemampuan mengolah ilmu eksakta lebih dihargai daripada pribadi yang mahir mengubah kata menjadi karya sastra. Dengan munculnya trend seperti itu, perlahan-lahan anak lebih ditekan untuk menguasai matematika dan mengabaikan perkembangan keterampilan berbahasanya. Padahal bahasa menjadi pintu yang membawa manusia pada ilmu pengetahuan. 
 
    Keterampilan berbahasa sejatinya tidak dilatih pada masa sekolah saja, melainkan jauh sebelum anak memasuki usia sekolah ia sudah harus terbiasa belajar berbahasa yang baik dan benar. Dengan begitu, ketika anak mulai menginjakkan kakinya ke sekolah, anak sudah terbiasa mengolah kata menjadi satu kesatuan tata bahasa yang baik. Semakin tinggi kemampuan anak dalam berbahasa, semakin tinggi pula kemungkinan anak memahami ilmu pengetahuan yang diajarkan pada jenjang sekolah formal.
 
    Selain itu, anak yang mampu menyampaikan gagasan maupun keinginannya dengan baik lebih diapresiasi daripada anak yang tidak bisa berbahasa dengan benar. Meskipun demikian, realitanya, sebagai orang tua dan guru kita justru membiarkan keterampilan berbahasa anak alakadarnya dan tidak pernah mengajari mereka bagaimana cara berbahasa yang baik. Ini yang kemudian menjadi problematika yang harus diatasi dan diperbaiki. Jika kita membiasakan anak untuk mendengar dan mengucapkan bahasa yang tidak baku, maka hal ini akan menciptakan kesulitan untuk anak kelak ketika ia harus membaca literatur berbasis ilmiah. Anak bisa jadi sulit memahami bacaan ilmiah, bosan saat membaca literatur ilmiah dan lain sebagainya. Bahkan pada kondisi tertentu, bukan tidak mungkin jika ada keterkaitan antara minat baca dengan kebiasaan berbahasa anak dalam kehidupan sehari-hari. Pada poin ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa menjadi penentu kemampuan belajar anak.

    Itulah kenapa melatih anak berbahasa sejak dini menjadi salah satu hal yang penting untuk segera dilakukan. Utamanya saat anak berumur 1,5 hingga 3 tahun. Karena menurut Montessori, usia tersebut merupakan periode sensitif bagi perkembangan kemampuan berbahasa anak. Melatih perkembangan bahasa anak bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah mendongeng. Dongeng selama ini dikenal hanya sebatas bacaan ringan dan penuh khayalan indah, bagi sebagaian orang dongeng tak ubahnya cerita fiksi yang memiliki porsi bahagia berlebih alias tidak masuk akal. Tetapi dilain sisi, dongeng adalah media yang menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang baik pada anak. Bukan hanya itu, mendongeng  juga mampu meningkatkan kemampuan berbahasa anak hingga ke level yang menakjubkan.
 

    Dongeng dapat meningkatkan penguasaan kosakata bahasa anak dengan signifikan, karena dalam mendongeng terjadi proses penambahan kosakata baru, mengevaluasi serta memahami informasi baru. Menurut penelitian Pengaruh Mendengarkan Dongeng Terhadap Kemampuan Bahasa pada Anak Usia Prasekolah yang dilakukan oleh Nur Rahmatul Azkiya dan Iswinarti, mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, membuktikan bahwa mendengarkan dongeng ternyata memberi pengaruh yang sangat signifikan terhadap anak usia prasekolah. 

    Dengan mendongeng, seiring bertambahnya kosakata yang dikuasai oleh anak, maka kemampuan mereka dalam berbahasa yang baik dan benar juga turut meningkat. Aktivitas sederhana ini, meskipun terdengar sepele, justru kelak akan menyelamatkan anak dari kesulitan memahami bacaan-bacaan ilmiah dan berat. Kegiatan sederhana seperti mendongeng, selain menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai budi pekerti kepada anak, juga menjadikan anak mahir dalam menggunakan bahasa sebagai bentuk komunikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Dongeng sejatinya adalah jalan ninja untuk kita para orang tua dan pendidik untuk memenuhi kebutuhan perkembangan berbahasa anak sejak usia dini.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada suatu hari yang cerah, matahari bersinar terang di antara lalu lalang burung terbang. Harusnya, hari tersebut menjadi salah satu hari terbaik yang dimiliki oleh Raisa sampai kemudian ibunya mendatanginya dengan wajah kusut dan menjelaskan bahwa mereka berdua harus segera meninggalkan rumah ini mengingat ia dan sang ayah resmi bercerai. Mengetahui fakta tersebut, Raisa kaget dan tidak terima. Ia tidak mau meninggalkan rumah yang menjadi tempat ia tumbuh bersama banyak memori indah di dalamnya. Sekali lagi ibunya berusaha menjelaskan bahwa keputusan yang diambil sudah bulat dan ini yang terbaik. Sejak saat itu, setiap kali matahari naik memamerkan cahaya kuningnya yang menyilaukan mata, Raisa membencinya.

 
   

Perceraian seperti tragedi menyeramkan yang menjadi alternatif solusi paling dihindari dalam masalah rumah tangga. Walaupun begitu, faktanya tingkat perceraian masih relatif tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, angka perceraian di Indonesia pada tahun 2020 menyentuh 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

            Di balik banyaknya kasus tersebut, masih banyak orang yang sibuk menghakimi keputusan orang tua yang memutuskan bercerai padahal tidak semua kasus perceraian membawa dampak negatif dalam kehidupan anak. Ketika mendengar berita tentang perceraian, pernahkah kamu berpikir bahwa bisa saja sebetulnya baik pihak suami maupun pihak istri sama-sama sudah merencanakan bagaimana selanjutnya kehidupan mereka di masa depan, bagaimana mengajarkan dan menjaga anak ketika mereka sudah tidak hidup dalam satu rumah lagi, bagaimana cara memenuhi kebutuhan sang anak baik secara materi maupun secara psikis?

            Well, perceraian tidak selalu memiliki akhir cerita yang buruk. Justru bukankah hebat ketika pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa hubungannya sudah tak lagi sehat dan memang harus diakhiri, maka mereka mengakhirinya dengan yakin dan berani. Banyak sekali kehidupan rumah tangga yang tidak sehat memaksa agar semua terlihat seolah baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya dengan alasan kasian anak dan lain sebagainya. Padahal, mereka tidak bisa bercerai karena memang tidak bisa hidup sendiri-sendiri alias sudah terlanjur bergantung pada pasangan.

            Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk bisa hidup secara mandiri tanpa didampingi oleh pasangan lagi. Tidak semua pasangan memiliki keberanian untuk menyudahi hubungan toxic mereka dengan alasan kasian pada anak padahal membesarkan anak dalam kondisi hubungan yang tidak sehat juga tidak baik. Kasus perceraian di Indonesia memang banyak, tetapi masih banyak lagi pasangan yang mempertahankan pernikahan mereka dengan alasan masih bisa diperbaiki padahal jalan satu-satunya yang tersisa hanya perceraian saja. Mari kita apresiasi seluruh keberanian yang sudah dimiliki oleh orang-orang yang kini menyandang status single parent. Mari kita hormati dan hargai keputusan pasangan yang telah resmi memutuskan bercerai. Mereka telah berani menyelamatkan diri dan keluarga kecil mereka dari kemungkinan yang paling buruk.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada era 4.0 sekarang, pendidikan menjadi salah satu unsur penting dan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Tak heran para orang tua rela bekerja keras demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan sang anak. Dari banyaknya orang yang menyadari pentingnya sebuah pendidikan dalam kebutuhan sosial masa depan, hanya sedikit dari mereka yang paham betul tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

            Pendidikan sejatinya faktor utama yang memengaruhi kemajuan suatu negara. Negara dikatakan maju apabila tingkat pendidikan dalam negara tersebut memiliki kualitas yang tinggi. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang berhasil membawa manusianya mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah untuk memerdekakan manusia.

            Dua poin utama dalam konteks manusia merdeka adalah 1) selamat jiwanya; 2) bahagia raganya. That’s it. Tujuan pendidikan tercapai ketika manusia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Mirisnya dua hal tersebut tidak pernah diajarkan dalam jenjang sekolah formal yang sudah kita tempuh berpuluh tahun. Sekolah formal seringkali hanya terfokus pada aspek teoritis dari materi yang sudah disesuaikan dengan kurikulum. Permasalahannya tidak semua materi tersebut memiliki kegunaan signifikan dalam rangka memenuhi dua poin utama manusia merdeka.

            Sekolah formal membantu peserta didiknya membangun jiwa kompetitif, di mana implementasi dari perasaan bersaing yang menggebu-gebu itu seringkali tidak sesuai dengan norma dan kepatutan sosial yang berlaku. Misalnya, di berbagai kasus peserta didik cenderung menghalalkan segala cara demi tercapainya nilai bagus dan menjadi juara kelas. Padahal tujuan dari pendidikan bukan untuk menjadi nomor satu dan mendapat nilai bagus. Di titik ini, pressure dari lingkungan keluarga dan sekolah juga menjadi salah satu faktor yang memaksa anak untuk melakukan segala cara yang tidak baik tersebut. 

            Perlukah kita merevisi kurikulum yang sudah terbentuk? Sesungguhnya kurikulum yang berjalan saat ini sudah sangat baik. Permasalahannya bukan terletak pada kurikulum, melainkan implementasi di lapangan yang kerap kali salah langkah. Seperti soal pandangan guru mengenai peserta didik yang pintar adalah mereka yang berbakat di bidang akademik sehingga, mereka yang tidak berbakat di bidang tersebut merasa rendah diri dan tidak puas padahal sesungguhnya mereka memiliki bakat di bidang non akademik.

            Hal ini, yang secara tidak langsung mematikan kreativitas dan keantusiasan peserta didik dalam menuntut ilmu. Kepada bapak ibu guru yang terhormat, kepada seluruh wali murid yang saya hormati, mari mencoba menghargai apapun bentuk kemampuan anak-anak anda sekalian. Tidak pintar matematika tidak lantas berarti mereka bodoh. Tidak bisa berbahasa inggris bukan berarti mereka tidak berbakat. Tidak juara kelas bukan berarti anak tersebut tidak cerdas. Pencapaian mereka saat menempuh sekolah formal bukanlah barometer tercapainya tujuan pendidikan. Sekali lagi tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, manusia yang merdeka adalah manusia yang selamat dan bahagia. Mari ciptakan lingkungan pendidikan yang baik dan nyaman agar peserta didik kita terjamin keselamatan jiwa dan kebahagiaan raganya.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose