• Home
  • About
  • Mental Health
    • Category
    • Category
    • Category
  • Pendidikan
  • Isu Sosial
    • Kesehatan
    • Category
    • Category

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.
twitter instagram Email

Perspektif Manusia

Tadinya, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orang dewasa. Aku tidak mengerti mengapa mereka yang berperan sebagai orang tua kerap kali menyia-nyiakan kehadiran buah hati yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya. Mereka melakukan tindak kekerasan terhadap anak mereka sendiri, mereka mengacuhkan kehadiran anak mereka sendiri, bahkan mereka tega membunuh anak mereka sendiri. Ku tekankan sekali lagi: anak mereka sendiri. Padahal, mereka yang menginginkan anak hadir dalam rumah tangga mereka. Mereka yang memohon kepada Tuhan, meminta agar diberi kepercayaan untuk mengasuh anak. Lantas ketika permintaan mereka dipenuhi, yang terjadi adalah mereka menyia-nyiakannya. Kenapa?


 

Biar kuceritakan sebuah berita yang membuat aku berpikir bahwa ternyata ada manusia yang tidak mampu memanfaatkan otak yang diberi Tuhan dengan baik. Alkisah suatu hari, ada Ibu yang tega menyiksa anaknya yang baru berusia 5 bulan. Katanya, sang anak rewel dan menangis terus sehingga ia memukulinya. Kemudian anak tersebut tewas. Bagian yang paling tidak waras, sang ibu melarang siapapun untuk melaporkan kejadian ini sebab dia ingin berpergian ke Jogja. Dia takut kepergiannya batal hanya karena harus mengurus anaknya yang telah meninggal. Sehingga jasad bayi 5 bulan ini dibiarkan membusuk begitu saja di kamarnya. Pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku ketika membaca berita ini adalah: apakah sang ibu memiliki masalah kognitif yang menyebabkan kemampuan berpikirnya terganggu? Maksudku, halo? Anak itu baru berusia 5 bulan. Lantas apa yang si ibu harapkan? Sang bayi selalu tertidur dengan tenang?

Kamu tau, memiliki anak memang bukan perkara sepele. Membesarkan anak tidak sama dengan membesarkan kelinci. Anak adalah makhluk yang kompleks. Tidak pernah ada patokan pasti bagaimana cara membesarkan anak yang baik itu seperti apa, karena mereka terlalu kompleks; setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini barangkali tidak dipahami oleh semua orang tua. Mereka mungkin tidak memahami bahwa tidak semua anak memiliki sikap yang sama. Mungkin anak orang lain bisa selalu tenang dan penurut serta pendiam, sementara anak yang satunya super aktif dan memiliki banyak pertanyaan dalam kepalanya sehingga ia selalu ingin mencoba dan mencoba. 

Jika kamu memutuskan untuk menjadi orang tua, sudahkah kamu paham dengan kenyataan ini? Kenyataan bahwa anak itu bertumbuh. Seiring dengan pertumbuhan fisik, ada pertumbuhan emosi yang juga harus kamu kawal dan kamu hadapi. Akan ada episode-episode menyebalkan saat anak sedang berusaha mengenali emosinya sendiri. Dan itu tidak pernah mudah.

Di samping pertumbuhan anak, ada masalah finansial yang harus kamu tanggung. Sejak hamil hingga anakmu lahir ke dunia. Sejak bayi hingga ia besar nanti. Ada biaya yang tidak sedikit yang harus kamu tanggung. Sudahkah kamu siap dengan bagian ini? Karena, masalah finansial adalah masalah krusial. Menurutku, keberlangsungan sebuah keluarga bergantung kepada penghasilan yang kalian miliki. Anak yang kamu rawat perlu uang untuk memenuhi gizi mereka, perlu uang untuk pendidikan, perlu uang untuk bermain, perlu uang untuk kesehatan mereka, dan kebutuhan-kebutuhan tersier lain yang sama-sama memerlukan uang.

Saat masa pertumbuhan, sebagai orang tua, kamu adalah madrasah pertama yang ia dapatkan. Sebagai orang tua, nantinya kalian akan menjadi contoh untuk ia tiru. Kalian akan mengajari banyak hal dasar yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak kalian selanjutnya. Sudahkah kalian memiliki bekal untuk ini? 

Dan sebagai orang tua, tentu kalian tidak ingin meninggalkan anak kalian di saat ia belum siap sepenuhnya hidup mandiri di dunia yang kejam ini. Artinya, kalian harus memikirkan kesehatan kalian agar dapat hidup dalam waktu yang lama. Walaupun umur manusia sejatinya sudah ditentukan, tetapi berikhtiar untuk hidup sehat tidak ada salahnya kan? Maka pertanyaan selanjutnya, sudahkah kalian mempersiapkan kehidupan yang sehat tersebut? Lagipula, anak yang sehat berasal dari orang tua yang sehat pula. 

Dengan segala kompleksitas manusia, apakah kamu yakin kamu siap memiliki, membesarkan, dan merawat anak? Jika kamu ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, lebih baik kamu mengurungkan niat untuk memiliki anak. Tidak ada aturan yang mewajibkan pasutri untuk memiliki anak. Kalian berhak memilih untuk tidak memiliki anak. Jangan memaksakan kehendak untuk memiliki anak jika kamu belum siap seutuhnya, Atau kamu akan berakhir menjadi pembunuh dari anak-anakmu sendiri; membunuh secara fisik dan menghancurkan masa depannya adalah hasil akhir yang akan kamu peroleh jika kamu masih saja keras kepala memaksa untuk memiliki anak, sementara kesiapan dari sisi finansial, mental dan pengetahuan tidak kamu miliki. Pikirkanlah; memiliki anak bukan tujuan utama dalam sebuah pernikahan. Jadi, tidak perlu merasa tergesa-gesa untuk segera menghasilkan keturunan.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Rasanya, kasus bullying selalu terjadi di mana saja dan pelakunya bisa siapa saja. Tidak memandang gender. Tidak memandang usia. Tua, muda semua bisa menjadi pelaku dalam kasus perundungan. Baru-baru ini, kasus bullying viral lagi karena korban diduga mengalami bullying berupa kekerasan fisik hingga meninggal dunia. Korbannya masih pelajar. Dan tebak, berapa usia pelaku? Betul. Tidak berbeda jauh dengan korban. Pelaku juga masih pelajar, dan mereka melakukan perbuatan tercela tersebut ketika korban hendak menunaikan sholat. Kok mereka? Lah pelakunya ada sembilan, bun :)

 

Bayangkan, kamu mengandung anak selama 9 bulan, begitu lahir kamu besarkan dia dengan sepenuh hati, kamu jaga dia seolah dia satu-satunya barang berharga yang kamu punya. Ketika menginjak usia sekolah, ada segerombolan manusia entah siapa tiba-tiba datang dan menyakiti anakmu. Bukan disakiti fisik saja, mental juga dirusak. Tidak cukup sampai disitu, akhirnya kamu terpaksa merelakan anakmu pergi untuk selamanya sebab kekerasan fisik yang dialami ternyata berakibat fatal. Hancur kan?

Tapi orang tua pelaku tentu lebih hancur lagi. Sama. Dia juga membesarkan anaknya dengan sepenuh hati. Tetapi pada akhirnya harus menyaksikan anaknya menjadi pelaku pembullyan. Atau dalam kasus di atas, barang kali sudah masuk ranah pembunuhan? Tentu dia merasa bersalah dan merasa gagal. Perasaan hancur yang dirasakan oleh orang tua pelaku dua kali lipat. Ia harus menanggung perasaan bersalah sebab anaknya melakukan tindakan kriminal yang merenggut nyawa orang lain, dan perasaan kecewa, sedih sebab merasa gagal dalam mendidik anak.

Tidak ada satupun orang tua yang ingin anaknya tumbuh menjadi seorang kriminal dan melakukan hal-hal jahat. Lantas kenapa selalu saja ada kasus pembullyan di mana bahkan pelakunya masih di bawah umur?

Barangkali, ada kelalaian yang tidak disadari orang tua saat mengasuh anak. Mungkin tanpa sengaja orang tua memperlihatkan adegan kekerasaan pada sang anak. Mungkin tanpa sadar orang tua melukai harga diri sang anak saat di rumah hingga anak merasa rendah diri dan mencari-cari pembuktian akan superioritas dia dengan membully anak yang lebih lemah di sekolahnya. 

Anak yang terluka harga dirinya sebab selalu diremehkan saat di rumah akan sibuk mencari pembuktian di luar rumah. Ia akan sibuk membuktikan bahwa dia kuat, bahwa dia bisa, bahwa dia memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh teman-temannya yang lain sehingga sang anak bisa saja mencari pembuktian tersebut dengan cara-cara yang negatif.

Kelalaian kita sebagai pendidik juga barangkali berperan dalam hal ini. Mungkin kita sebagai guru di sekolah kurang memberi contoh mengenai perilaku yang baik sebenarnya seperti apa. Mungkin kita sebagai guru kurang bersikap tegas, ketika siswa berbuat salah bukannya memberi sanksi malah mengabaikan dengan alasan "kan dia masih kecil. wajarlah" padahal dari kenakalan sepele saja, ketika kita tidak bertindak tegas, anak bisa jadi akan berpikiran bahwa perilakunya benar dan tidak apa-apa untuk melakukan kenakalan-kenakalan lain. 

Ada banyak yang perlu dikoreksi dalam kasus perundungan. Baik pihak orang tua maupun sekolah sama-sama memiliki tanggung jawab terkait kasus tersebut. Seharusnya semua pihak masing-masing berbenah diri. Sudahkah kita mengemban tanggung jawab dengan amanah? Apakah kita masih melakukan kelalaian-kelalaian tersebut? Perilaku anak-anak merupakan cerminan dari orang dewasa di sekitarnya, jadi jika anak-anak sampai melakukan tindak kejahatan; salah siapakah akhirnya?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Well, film adalah media yang seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang untuk menyebarkan propaganda. Biasanya, semakin besar masa yang dimiliki suatu industri perfilm-an, semakin tinggi kemungkinan tujuan dari penyebaran propaganda tersebut berhasil terpenuhi. Akan tetapi, banyaknya masa yang dimiliki sebuah industri film tidak selalu membawa dampak positif. Contoh nyata yang sempat viral belakangan adalah kartun Nussa dan Rara. Kita tau sama tau bahwa beberapa golongan masyarakat sempat menolak keras kartun Nussa dan Rara beredar di pertelevisian di Indonesia. Alasannya tidak jauh-jauh dari bias agama. Taliban katanya. Berisikan islam yang terlalu radikal katanya. Padahal kartun Nussa dan Rara jelas sekali mengajarkan banyak hal kebaikan. 


 

Anyway, bukan masalah terkait pendapat nyeleneh itu yang mau aku bahas di sini. Tapi, aku mau menghiglight bahwa dari pendapat-pendapat yang sempat naik di media sosial tersebut kita jadi tau, jenis-jenis masyarakat Indonesia itu terbagi menjadi berapa macam. Jenis masyarakat yang harus dihindari adalah masyarakat yang mudah sekali menghakimi sesuatu melalui sudut pandang dia yang jelas subjektif dan sempit pemikirannya. Padahal dari kartun Nussa dan Rara, ada banyak yang bisa dipetik dan dipelajari. Bukan serta merta soal adab dan akhlak saja. Tapi, karena manusia-manusia ini terkurung dalam bubble-bubble hidup yang sempit, dia jadi tidak bisa melihat bahwa kartun tersebut memiliki banyak hal baik lainnya. Yang dia tangkap hanya kartun Nussa dan Rara mendoktrin banyak ajaran radikal. Selesai. 

Orang-orang yang seperti ini adalah jenis orang yang kalau salah, ketika ditunjukkan yang benar dia marah dan nyolot tidak terima. Capek-capekin diri dan menghabiskan energi banget kalau kita punya teman seperti ini, kan?

Kalau mau teliti, selain mengajarkan akidah dan akhlak, Nussa dan Rara juga mengajarkan caranya menerima perbedaan yang ada di sekitar kita kepada anak-anak. Tokoh Nussa adalah tokoh disabilitas yang memiliki kekurangan pada anggota gerak bagian bawah. Kakinya diganti oleh kaki buatan. Tetapi, tokoh Nussa ini menunjukkan bahwa meski dia memiliki keterbatasan, dia tetap baik-baik saja dan bisa berbaur dengan lingkungannya. Kartun Nussa dan Rara mengajarkan, meski ada orang yang berbeda dengan kita sebab dia punya keterbatasan fisik; its oke kok dan tidak perlu dibully apalagi sampai didzolimi. 

 


Hal-hal seperti itu, belum tentu kita bisa mengajarkannya kepada anak sejak dini. Sebab, belum tentu di lingkungan kita, ada orang difabel yang bisa dilihat secara langsung oleh anak. Seringkali yang terjadi adalah kita bisa mengajarkan arti toleransi secara teori kepada anak tetapi praktiknya 0. Karena, anak tidak melihat contoh langsung bagaimana teori "toleransi" pada orang-orang berkebutuhan khusus itu dalam kehidupan sehari-hari. Maka di sinilah kartun Nussa dan Rara berperan. Sebagai media untuk mengajarkan kepada anak untuk hidup damai dan saling menghargai dalam berteman, bagaimana berbuat baik sesuai norma dan agama di lingkungan. 

Sebegitu banyaknya hal positif yang bisa di ambil, kok bisa ya orang-orang melihat kartun ini dari sudut pandang yang buruk? Heran :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Suatu hari ada seorang perempuan yang bercerita di sosial media mengenai pengalamannya dilecehkan oleh laki-laki. Selama ini ia memendam pengalaman itu sendiri karena berpikir bahwa mendapatkan sexual harassment adalah sebuah aib yang memalukan. Tetapi melihat bagaimana pola pikir society yang terus berkembang, akhirnya ia memutuskan untuk speak up terkait pengalaman tersebut di sosial media. Dengan harapan, ia akan memperoleh dukungan moral dan sebuah validasi akan perasaan-perasaannya yang berkecamuk setelah mendapatkan pelecehan. Untung-untung kalau akhirnya ia juga bisa memidanakan si pelaku.

Ternyata, instead of mendapatkan dukungan dan validasi, yang dia peroleh justru hujatan dari netizen. Boro-boro memidanakan pelaku, sekadar kenyamanan untuk bercerita aja dia gak punya. Kata netizen "salahmu lah, pake baju kok yang mengundang syahwat orang" atau "makanya pake jilbab dong. itu tuh gara-gara kamu gak pake jilbab. dalam islam perempuan dewasa kan wajib pake jilbab." Selalu. Pada akhirnya orang-orang melakukan victim blaming dan menggunakan argumen agama untuk menyalahkan si korban.

 


Di lain kasus, seorang influencer yang tadinya berjilbab akhirnya memutuskan untuk melepas jilbab tersebut. Reaksi netizen seperti biasa; mereka bertindak sebagai polisi moral. Sibuk berkomentar yang tidak baik. Menyalahkan keputusan si influencer. Menceramahi influencer dengan dalil-dalil agama. Mengatakan bahwa sebagai orang islam yang baik, berjilbab itu adalah sebuah kewajiban. 

Gak salah. Jilbab dalam islam adalah kewajiban yang harus dilaksanakan bagi kaum perempuan. Masalahnya, kenapa persoalan jilbab aja bisa menjadi sesuatu yang besar. Seakan-akan ketika seorang perempuan memutuskan untuk menanggalkan jilbabnya itu berdosa sekali. Kenapa kemudian orang-orang yang bahkan gak pernah bersinggungan langsung dengan influencer tersebut merasa berhak menyampaikan kekecewaannya, keresahannya hanya karena ia melepas jilbabnya. 

Ketika ditanya hal tersebut, argumen mereka adalah "ya kan sesama saudara muslim, kita harus saling mengingatkan. kita harus saling menasihati. sedih dong sesama muslim tapi kita biarkan dia bertindak di luar akidah yang ada?"

My follow up question, apakah orang-orang ini memiliki kapasitas mental yang sama ketika melihat sesama saudara muslimnya korupsi? Merendahkan perempuan? Melecehkan orang lain? Menghina orang lain? Menyakiti binatang? Merusak alam? Belum tentu.

Ironisnya, fenomena-fenomena itu sangat umum terjadi; baik yang terekspos maupun yang tersembunyi.

Narasi yang digaungkan setiap kali perempuan-perempuan mengalami perlakuan tidak senonoh adalah narasi agama. Seolah-olah mereka dilecehkan sebab belum menjadi muslimah yang baik. Mereka disalahkan hanya karena belum memenuhi salah satu kewajiban sebagai muslim. Perempuan selalu dilihat dari tingkat ke-religius-annya dalam beragama. Sementara si laki-laki, yang mana dalam hal ini berperan sebagai pelaku tidak dipandang demikian. Pelaku cenderung dilihat sebagai sosok manusia yang punya hak untuk melakukan apa saja. Biasanya, pembelaan yang diterima oleh si pelaku adalah "ya dia kan berhak untuk ngapain aja" atau "ya kucing kalo dikasih ikan mana bisa nolak. wajar lah." 

Gak pernah ada argumen yang menyalahkan pelaku seperti "ya salah elu lah kaga nundukin pandangan. ada cewe lewat ya nundukin pandangan biar gak nafsu." Padahal kalau mau berbicara dalam konteks agama, kalimat itu bisa menjadi counter attack argumen "makanya pake jilbab biar ga dilecehin cowok." Dan itu adalah hal paling logis yang harusnya dilakukan laki-laki manapun. Kayak, kalau selama ini society selalu menuntut tanggung jawab keberagamaan yang baik pada perempuan dengan selalu menekan mereka untuk menjaga perilaku, memakai jilbab dan lain sebagainya. Kenapa laki-laki gak dituntut hal yang sama dengan menyuruh mereka untuk menjaga pandangannya? Padahal baik laki-laki maupun perempuan; kalau mereka sama-sama memeluk suatu agama ya berarti mereka sama-sama punya tanggung jawab untuk menjadi seorang muslim/muslimah yang baik (kalau konteksnya agama islam) 

Kenapa lalu hanya perempuan yang dituntut untuk menjadi muslim yang baik? Padahal beban beragama itu bukan untuk perempuan aja. Jangan lupa beban beragama itu diperuntukkan bagi semua pemeluknya.



 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dari pesatnya kemajuan teknologi saat ini, sejujurnya ada banyak banget hal yang aku takutkan akan terjadi. Ini bukan soal bagaimana orang-orang lantas memanfaatkan teknologi untuk hal-hal kurang baik aja. Lebih dari itu, ada banyak dampak negatif yang tanpa disadari perlahan-lahan merusak orang-orang secara mental dan fisik, yang bahkan awalnya mereka sendiri gak menyadari kalau hal-hal ini membawa dampak negatif karena hal tersebut sudah dinormalisasi di society. 


 

Karena teknologi, kita jadi berada di situasi serba mudah. Utamanya dalam urusan komunikasi. Saking mudahnya, kita bahkan bisa tau apa yang sedang dikerjakan orang lain secara real time; mereka sedang berada di mana, sedang bersama siapa. Semua itu mudah aja untuk kita tau bahkan tanpa kita mencari tau. Kemudahan ini tentunya sangat menguntungkan untuk pihak-pihak tertentu. Contohnya, fenomena selebriti di sosial media; bagaimana publik melihat mereka sebagai public figure yang meng-influence dan bagaimana industri melihat mereka sebagai partner untuk menaikkan flow perusahaan mereka.

Keberadaan sosial media membuat orang menjadi mudah untuk mengumpulkan massa. Mereka yang berada di podium dan punya massa biasanya menjadi target para marketing sebuah perusahaan-perusahaan bisnis. Dengan memiliki ratusan ribu followers di sosial media misalnya, maka para pemilik bisnis akan memanfaatkan itu untuk mempromosikan produk yang mereka jual.

Ini adalah hal yang positif awalnya. Terjadi hubungan yang saling menguntungkan antara public figure dengan pemilik bisnis. Masalahnya, apakah jenis hubungan saling menguntungkan ini terjalin juga antara public figure dengan para followers nya? 

Di 2022 ini, ada trend baru di sosial media namanya "racun (nama online shop platform)" dimana trend ini memanfaatkan public figure sosial media untuk gaining pengunjung sebanyak-banyaknya. Keuntungan yang mereka tawarkan kepada public figure bersifat relatif. Artinya semakin banyak customer yang bisa dia jangkau, semakin banyak pula keuntungan yang nantinya akan ia dapatkan. Program semacam ini lebih kita kenal sebagai program affiliate atau afiliasi. 

Karena belanja menjadi hal yang sangat mudah untuk dilakukan, ditambah setiap kali membuka sosial media yang kita lihat adalah ajakan untuk menghabiskan uang, maka muncul permasalahan baru di era digital sekarang yakni budaya konsumerisme.

Banyak penelitian terkait konsumerisme yang membuktikan bahwa generasi milenial adalah generasi yang paling boros dan konsumtif. Udah gak kaget, karena memang lingkungan kita sangat menormalisasi perilaku konsumtif tersebut. Buktinya, yang dilakukan public figure justru menginfluence followersnya untuk menjadi orang-orang yang konsumtif. That being sad, seperti yang sudah kubilang di awal, fenomena ini sangat dinormalisasi. Sehingga orang-orang gak sadar kalau apa yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan. 

Perilaku konsumtif ini diperparah dengan adanya standar kecantikan. Karena kalau kamu belum menyadari, selain warna kulit, gaya berpakaian juga sangat menentukan bagaimana penampilan kamu di mata orang lain. Semakin bagus pakaian kamu, semakin putih warna kulitmu, semakin terlihat "baik" di mata orang. Semakin kamu menunjukkan fisik yang luar biasa, semakin banyak pula orang-orang yang akan menghargai kamu pada akhirnya.

Sehingga sudah bisa ditebak bagaimana endingnya. Industri berlomba-lomba mengeluarkan produk-produk fashion dan beauty demi memenuhi demand. Masyarakat berlomba-lomba membeli semua produk tersebut demi mengejar martabat dunia. Tentu, gak semua masyarakat. Tapi melihat bagaimana fenomena afiliasi ini terus berkembang, gak menutup kemungkinan kalau ternyata mayoritas dari masyarakat kita berperilaku demikian. 

Satu-satunya cara untuk mengurangi perilaku konsumtif ini adalah dengan menahan ego untuk gak selalu memaksa mengikuti standard society yang ada. Lingkaran setan ini perlu disudahi. Kalau terus-terusan memaksa untuk bisa memenuhi standard society maka akan selalu seperti itu circumstancesnya, bahkan bisa jadi akan semakin parah seiring berjalannya waktu. 

Perlu banget untuk kamu garisbawahi bahwa gak harus mengikuti fashion terkini untuk bisa tampil "bagus" di mata orang. Gak harus putih kok untuk bisa terlihat "cantik". Asal rapi dan bersih, sebenarnya cukup dan baik juga, kan?


 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Belakangan ini, aku jadi sering mempertanyakan semua hal yang sudah aku lakukan. Aku jadi sering merenungi perjalanan-perjalanan tidak terduga yang sudah aku lewati. Aku jadi mencari-cari lagi, sebenarnya dari kesemua pengalaman itu, harusnya membentuk aku menjadi pribadi yang seperti apa sih? Akan menjadi seperti apa aku 5 atau 10 tahun lagi?


 

Dari dulu, aku selalu merencanakan setiap langkah yang akan kuambil dengan hati-hati. Keputusan-keputusan yang akan kujalani selalu melewati pertimbangan matang dan beragam perhitungan. 

Tapi lucunya, semakin aku merencanakan, semakin tidak tepat sasaran pada akhirnya. Contoh, untuk keputusan besar pertama yang aku rencanakan dan ternyata punya ending yang sangat tidak tertebak sama sekali: masuk SMA. Waktu SMP, aku masih ingat dengan jelas kemana aku ingin melanjutkan jenjang pendidikan ku ketika lulus SMP. Dengan berbagai pertimbangan, dengan banyak perhitungan, dan persiapan tentunya, aku membulatkan tekad, aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMA X.

Karena aku tidak memiliki kemampuan dalam akademik maupun non akademik sementara SMA tujuanku adalah salah satu SMA favorit, tentu aku harus mempersiapkan itu 2x lebih serius dari anak-anak lainnya. Pada saat itu karena benar-benar ingin masuk di SMA X, aku bahkan mengikuti les di sebuah lembaga mainstream terkenal pada zamannya.  

Singkat cerita, saat semua sudah kulakukan, saat aku sudah memasuki masa-masa ujian nasional, saat itulah aku diberitahu bahwa selepas SMP aku akan pindah ke luar kota. Dan itu adalah keputusan final. Tidak akan berubah. Tidak bisa diganggu gugat.

Lucu sekali. Rasanya aku selalu dipermainkan oleh hidup. Karena dengan begitu sama artinya apa yang kupersiapkan sia-sia saja semuanya. 

Dari situ, pelajaran hidup yang bisa kuambil adalah bahwa untuk melepaskan kemudi, dan membiarkannya berjalan tanpa GPS, tanpa memikirkan akan kemana akhirnya, kadang-kadang bisa menjadi opsi yang paling menenangkan. 

Karena kalau dipikir-pikir, kuasa Tuhan itu nyata kok. Semua yang terjadi pada hidup tiap individu sudah digariskan. Lepaskan saja. Jangan dipikirkan. Jalani dengan sebaik mungkin. Pada akhirnya toh kita akan sampai juga. Tidak mungkin tersesat apalagi salah arah. Karena sebaik-baik GPS dalam hidup manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa.  

Seringkali yang terjadi, ketika kita merencanakan sesuatu, jalan hidup kita justru menjadi rumit. Padahal tinggal lurus-lurus saja, tapi karena kita sok tau, kita justru ambil jalan putar balik. Harusnya lurus, kita malah putar kanan. Harusnya kita bisa sampai, justru stuck di tengah jalan karena rencana-rencana sok tau kita. 

Mungkin, sesekali memang perlu direncanakan, untuk punya gambaran apa yang harus dipersiapkan.. sisanya biar kuasa Tuhan yang menentukan. Karena toh jalan hidup kita sedari awal memang sudah diatur oleh Nya.  

Prinsip inilah yang akhirnya aku pakai saat ingin mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupku.

Aku selalu percaya, kalau Tuhan sebaik-baiknya pemilik rencana.

Pun termasuk jodoh, maut, rezeki adalah bentuk ketetapan Tuhan yang tidak akan aku ingkari sampai kapanpun.

Makanya, kalau ada orang bertanya "kamu mau nikah umur berapa?" ya... terserah Tuhan. Mau besok lusa, lima atau sepuluh tahun lagi, kapan pun itu: terserah Tuhan, Aku sendiri tidak punya gambaran kira-kira di usia berapa aku akan siap untuk masuk ke jenjang pernikahan. Aku juga bukan perempuan konservatif yang mengamini konsep "wanita kadaluwarsa". Jadi aku tidak peduli di umur berapa aku akan menikah karena yang tahu pasti kapan aku siap sekali lagi adalah Tuhan.

Termasuk soal memiliki atau tidak memiliki anak. Buatku, memiliki anak itu sama konsepnya dengan bentuk rezeki yang lainnya. Kalau waktunya punya ya akan lahir juga akhirnya. Tapi untuk anak, sebetulnya aku punya pertimbangan terms & condition nya sendiri. Tapi lagi; aku tidak akan memaksakan kehendak untuk punya anak. Aku tidak akan menargetkan punya anak di umur berapa. Aku tidak akan memaksakan apa-apa karena ini kuasa Tuhan. 

Ada banyak titik buta dalam hidup. Kita lebih banyak tidak tahunya tentang masa depan. Kita tidak bisa meraba ada jurang sedalam apa di depan sana. Karenanya, melepaskan kemudi bisa jadi pilihan yang tepat. Tentunya, tidak sepenuhnya memasrahkan karena untuk berjalan ke depan, kita juga perlu usaha dan persiapan. Tapi.. tidak terlalu memikirkan dan menargetkan adalah win-win solution atas banyak ketidaktahuan kita tentang masa depan. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Semua orang selalu berkata kalau ingin sebuah hubungan berjalan baik dan langgeng, yang harus pasangan itu lakukan adalah menjaga komunikasi dan kepercayaan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah komunikasi dan kepercayaan saja cukup untuk melindungi sebuah hubungan? Apakah dengan komunikasi yang baik saja cukup untuk mencegah pasangan berselingkuh? Apakah hanya dengan percaya saja sudah bisa menjamin pasangan tidak akan berselingkuh? Tidak. 

Seseorang akan tetap berselingkuh meski komunikasi dan kepercayaan yang dibangun sudah kuat. Sebuah hubungan tetap bisa berakhir dengan alasan bosan meski komunikasi dan kepercayaan sudah terbentuk dengan sempurna. 


Aku sudah sangat familiar dengan cerita perselingkuhan dan drama-drama lain dalam sebuah hubungan. Suatu hari, temanku pernah bercerita jika ia diselingkuhi oleh pasangannya. Padahal aku tau dengan pasti bagaimana baiknya pola komunikasi mereka. Aku juga pernah mendapati temanku mengakhiri hubungannya hanya karena ia merasa stuck dan jenuh. Padahal, mereka sering bertemu dan hubungan mereka selalu berjalan seru. 

Pada kasus lain, temanku berperan sebagai orang yang berselingkuh dalam hubungannya. Dia bilang kalau dia bosan dengan pacarnya. Aku bisa membayangkan jika pasangannya menaruh kepercayaan yang dalam kepada temanku ini. Tentu saja, karena selama berpacaran, ia mencitrakan diri sebagai seorang yang alim dan setia. Siapa yang tidak akan percaya?

 

Narasi-narasi perselingkuhan dan drama lainnya dalam sebuah hubungan cukup membuatku trauma duluan. Meskipun aku belum pernah mengalaminya secara langsung. Bukti-bukti nyata tersebut diperparah dengan fakta bahwa manusia sejatinya adalah eksistensi yang cukup kompleks. Tetapi akhirnya dari fenomena-fenomena tersebut aku mengambil kesimpulan jika sekadar menjaga komunikasi dan saling percaya bukan jaminan hubunganmu akan baik-baik saja.

Menurutku, dalam menjalin komitmen bentuk apapun, yang diperlukan adalah tanggung jawab. Kepercayaan saja tanpa diiringi tanggung jawab tidak akan menjamin apa-apa. Komunikasi saja tanpa dibarengi dengan tanggung jawab juga tidak akan menjamin hubungan akan berjalan dengan baik.

Komunikasi tanpa rasa tanggung jawab di dalamnya sama saja bohong. Orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab, dalam setiap komunikasinya bisa saja ia menyelipkan banyak dusta tanpa rasa bersalah. Pada akhirnya, mungkin kamu merasa komunikasimu dan pasangan berjalan lancar, namun jika itu tidak dilandasi oleh rasa tanggung jawab, kamu bahkan tidak akan tau apakah dia berbohong atau tidak, apakah ada yang disembunyikan atau tidak.

Pun demikian dengan kepercayaan. Tanpa rasa tanggung jawab, kepercayaan yang kamu berikan tentu akan dipermainkan. Dia dengan sadar memanfaatkan kepercayaanmu untuk melakukan hal-hal yang dia inginkan. Seringkali yang terjadi, semakin percaya kita terhadap pasangan semakin besar kemungkinan kita akan diselingkuhi nantinya.

Dalam menjalin hubungan, menurutku pola pikir yang seharusnya terbentuk adalah; aku punya tanggung jawab untuk menjadi lebih bisa dipercaya, dan dia punya tanggung jawab untuk belajar percaya. Kalau ternyata yang terjadi adalah hal yang sebaliknya; ia terlalu percaya. Maka aku punya tanggung jawab untuk tidak merusak kepercayaannya, dan dia punya tanggung jawab untuk tidak mudah memecah kepercayaannya padaku.

Kuncinya adalah: tanggung jawab.

Pastikan kamu adalah orang yang bertanggung jawab agar kamu dipertemukan dengan orang yang sama bertanggung jawabnya. 

 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kalian pernah melihat status orang di sosial media seperti "aduh aku gendutan ni sekarang" pada postingan photo di mana dia terlihat kurus dan tidak ada gendut-gendutnya sama sekali. Atau ketika kamu sedang curhat, temanmu merespon curhatanmu dengan kalimat "masih mending kamu ditanggung orang tua, lah aku? Semua harus usaha sendiri, ganti iphone kemarin juga aku harus usaha sendiri." Nah fenomena itu disebut humble bragging.

Humble bragging adalah keadaan di mana seseorang dengan sengaja ingin pamer tetapi membungkusnya dengan berbagai macam cerita menyedihkan. Istilah indo nya, humble bragging adalah jenis orang yang senang merendah untuk meroket.  


 

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/444324/mengenal-humblebragging-merendah-untuk-pamer

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. 

Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. 

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Tanpa sadar, sebetulnya semua orang pernah mengeluarkan kalimat-kalimat humble brag. Termasuk aku, tidak terkecuali.

Contoh-contoh kalimat humble brag

"Aduh,aku tu gabisa ngerjainnya soalnya aku gapinter, orang aku cuma ranking 2 dari 100 siswa di sekolah"

"Kok bisa ya aku dapat IPK tinggi, padahal aku cuma tidur doang tiap ada kelas."

"Yaelah gajiku mah ga gede, buat beli starbuck aja cuma bisa 4x dalam seminggu."

dll.


 

Celakanya, kadang kita tidak menyadari kalau sudah melakukan humble bragging. Justru yang sadar seringkali adalah lawan bicara yang akhirnya ilfeel duluan ke kita. Di sosial media, kita akan menemukan banyak sekali jenis-jenis humble brag ini. Biasanya, orang-orang yang sering melakukan humble brag adalah jenis orang yang membutuhkan validasi bahwa dia bisa dan dia hebat. 

That being sad, pelaku humble bragging ini kadang sampai pada tahap mati rasa. Situasi menyedihkan apa saja akan dia gunakan untuk menutupi niat pamer yang dia punya. Tidak peduli apakah kalimat yang ia gunakan menyakiti orang atau tidak, yang dia inginkan hanya menunjukkan kehebatan dan mendapatkan pujian melalui narasi sedih yang ia rangkai dengan baik.

Padahal, kalau mau merenungi sedikit, orang lain toh tidak peduli pada pencapaianmu. Orang lain tidak akan peduli sebanyak apa kelebihan yang kamu miliki. Mereka baru akan mendengarkan dengan seksama kalau yang kamu coba sampaikan adalah kekurangan-kekurangan yang kamu punya. 


 

 

 

Humble bragging, menurut para peneliti, dilakukan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Dilansir dari iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. Sezer mengatakan orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar dan mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan orang mempromosikan atau memamerkan diri mereka untuk lebih dihargai serta disukai orang lain. Menurut Sezer, secara profesional mungkin memang perlu, tapi secara sosial ini tidak disukai. Intinya, seseorang yang bersikap humble bragging sedang berusaha mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang lain dengan cara menunjukkan kekurangannya, tapi niat sebenarnya adalah ingin dipuji atas kelebihannya.

Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/444324/mengenal-humblebragging-merendah-untuk-pamer
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Di zaman teknologi seperti sekarang, rasa-rasanya kita sebagai manusia kehilangan privasi atas diri kita sendiri. Segala publisitas yang terjadi di media seperti hal wajar bahkan menjadi sebuah keharusan. Makan di mall? Update di story instagram dulu. Mampir ke toko buku? Jangan lupa bukunya di foto, buat rapihin feed instagram. Jalan-jalan ke luar kota? Nge vloglah, untuk konten youtube. Rasanya, kegiatan yang dilakukan manusia zaman ini kebanyakan bertujuan untuk memuaskan hasrat update semata.

Gak ada yang salah dengan itu semua. Kegemaran posting-posting ini menjadi berbahaya kalau ternyata konten tersebut dapat memancing keributan. Posting sesuatu yang menyangkut SARA misalnya. Buat konten yang bertujuan untuk menjatuhkan kelompok tertentu contohnya. Hal-hal negatif itu gak sebaiknya dengan sengaja di posting di sosial media, karena ya buat apa? 

Tapi, hidup itu penuh dengan batu sandungan memang. Kadang kita sudah melangkah dengan penuh kehati-hatian, tetap aja kesandung, kepleset, jatuh. Sama hal nya ketika kita memutuskan untuk bermain sosial media, sehati-hati apapun kita dalam menggunakannya, akan tetap ada aja hal-hal yang gak pernah kita duga. 

 
Sebagai contoh, meski kamu berusaha membangun personal branding yang baik sekali di sosial media, meski kamu  berusaha untuk menampilkan citra yang baik di hadapan netizen, akan tetap ada orang yang tiba-tiba membenci kamu hanya karena satu postingan yang kamu buat. Lucunya, mereka yang tiba-tiba membenci itu gak hanya berhenti di sana. Mereka akan mengirimi kamu banyak hate comment yang diselimuti kalimat "cuma mengingatkan kok".

Pertanyaannya, kenapa sih rasa benci itu bisa dengan mudahnya hadir di dalam diri kita? Kenapa orang bisa merasa berhak untuk menyampaikan kebencian mereka pada orang lain dengan dalih "hanya mengingatkan"

Pertama, mungkin orang bisa dengan mudah membenci orang lainnya karena dia merasa dia perlu menjadikan seseorang sebagai kambing hitam atas ketidakmampuannya dalam berbuat sesuatu. Dia (orang yang membenci) dengan segala rasa rendah dirinya akan merasa senang kalau dia menemukan kesalahan pada diri orang lain, sehingga untuk menutupi ketidakpercayaan diri yang ia miliki, alih-alih menyibukkan diri untuk terus memperbaiki kualitas hidupnya, dia malah "menyerang" orang lain atas kesalahan-kesalahan minor yang orang lain miliki.

Kedua, dia bisa jadi kesepian dan sedang mencari perhatian. Apalagi kalau dia gak punya kerjaan. 

Ketiga, dia mungkin sedang insecure dengan dirinya sendiri. Orang-orang yang sedang memasuki masa-masa insecure seringkali membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika akhirnya dia menemukan fakta bahwa orang lain lebih baik dari dirinya, dia akan sibuk mencari-cari kekurangan orang tersebut. Saat ia menemukannya, dia akan menyuarakan kekurangan itu keras-keras dengan harapan orang lain akhirnya mengetahui kekurangan orang tersebut. Padahal untuk apa ya? Manusia kan memang bukan makhluk sempurna. Punya kekurangan bukan kejahatan yang patut dihakimi kan?

Dan masih banyak alasan lainnya, yang sebetulnya sepele dan gak penting sama sekali. 

Well, sepertinya banyak orang yang masih belum paham konsep tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kebanyakan orang juga masih menaruh ekspektasi tinggi terhadap manusia lain, sehingga ketika akhirnya manusia-manusia ini menunjukkan kekurangan-kekurangan yang ia miliki, orang lain merasa kecewa. Kecewa sebab ternyata tidak ada manusia yang mampu memenuhi ekspektasi mereka. 

Padahal, apasih yang kamu ekspektasikan dari manusia yang punya banyak kekurangan, punya emosi yang kompleks, dan punya pikiran yang gak tertebak? 

Kalau kata Juddy Hopps di Zootopia "We all have limitations, we all make mistakes" 

Kita terbiasa mencari orang berdasarkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Kita lupa, kalau kita pada akhirnya akan hidup berdampingan dengan kekurangan yang mereka punya juga. Seharusnya, dalam hal berteman; baik di sosial media maupun dunia nyata, usahakan untuk gak menaruh ekspektasi apa-apa. Usahakan untuk melihat kekurangan yang ia punya terlebih dahulu kemudian kamu analisis, apakah kekurangan tersebut bisa kamu toleransi atau enggak. Kalau enggak, ya tinggalkan. Gak perlu menghabiskan energi untuk "mengingatkan" karena aku yakin, tanpa diingatkan sebetulnya orang-orang itu tau apa kekurangan yang dia punyai. 

Kalau masih aja perasaan benci itu hadir bahkan setelah kamu merendahkan ekspektasimu terhadap dia, minimal tumbuhkan rasa simpati dalam dirimu. Tumbuhkan kesadaran agar jangan sampai kamu mengungkapkan rasa benci itu kepada orang tersebut. Karena, ungkapan benci yang kamu sampaikan boleh jadi menyakiti orang lain sebegitu dalamnya. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
For your information, bagi yang belum tahu MLM adalah singkatan dari multilevel marketing di mana salah satu sistem marketing yang ditawarkan bertujuan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya melalui biaya masuk anggota baru. Sebagai upline semakin banyak anggota atau downline yang berhasil kamu tarik, semakin banyak pula keuntungan yang akan kamu dapatkan. 
 
Sistem MLM ini sering diilustrasikan dengan gambar piramida; tajam ke atas, tumpul ke bawah. Padahal sistem MLM yang demikian dinilai sangat merugikan, khususnya untuk anggota-anggota baru. Undang-Undang No. 7 Tahun 2014 Pasal 9 tentang Perdagangan juga telah melarang pelaku usaha distribusi untuk menerapkan sistem skema piramida dalam mendistribusikan barang. NU pun mengakui bahwa bisnis MLM adalah bisnis haram dan MUI mengamininya.
 

 
Layaknya MLM, penegakan hukum di Indonesia tanpa sadar juga mengikuti sistem keuntungan berjenjang tersebut. Mari kita analogikan petinggi negara sebagai upline dan rakyat biasa sebagai downline.  Salah satu contoh kasus yang mengindikasikan bahwa praktik penegakan hukum di Indonesia membawa keuntungan bagi “upline” adalah lolosnya koruptor dana bansos dari tuntutan jerat hukum. Ketua DPRD Bengkalis, Heru Wahyudi hanya dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara dari tuntutan awal delapan tahun enam bulan karena telah melakukan korupsi dana bansos sebanyak 31 M.  
 
Sementara itu, di Bangkalan pada tanggal lima bulan 10 lalu ditemukan pria dibakar hidup-hidup oleh massa karena diduga melakukan pencurian. Dilansir dari jatim.inews.id, korban pembakaran menurut pihak kepolisian setempat merupakan residivis pencurian. Hanya karena diduga telah melakukan aksi pencurian, warga dengan tega membakarnya hidup-hidup. Jika di bandingkan dengan hukuman yang diterima oleh koruptor Bengkalis tadi, tentu saja hukuman yang diterima pemuda di Bangkalan ini sangat tidak adil. Kasus ketidakadilan hukum lainnya yang sempat viral di sosial media adalah kasus nenek Minah yang dihukum satu bulan 15 hari karena mencuri buah kakao. 
 
Tidak bisa dipungkiri keistimewaan hukum yang diterima oleh Ketua DPRD Bengkalis tersebut merupakan bagian privilege yang juga diterima oleh petinggi-petinggi negara lainnya. Remisi hukuman akan kamu peroleh dihitung dari seberapa banyak kamu mampu menarik “downline” untuk berpihak padamu dan membungkam bawahan-bawahan terkait. Bukan diukur dari seberapa banyak kontribusi dan kebaikan yang telah kamu lakukan untuk negara sebagai tersangka.
 
Atau dalam kasus spesial lainnya, para “upline” bahkan bisa lolos sama sekali dari hukuman yang harus dijalani. Seperti kasus korupsi dana bansos lainnya di daerah Kabupaten Bandung Barat. Dilansir dari liputan6.com dua terdakwa divonis tidak bersalah oleh Majelis Hakim meskipun keduanya mengaku telah melakukan aksi korup. Saya sungguh tidak mengerti dengan pola pikir koruptor dan pihak terkait yang terlibat dalam penanganan hukuman untuk mereka. Bagi saya; tidak perlu menjadi ahli politik dan agama untuk mengerti tindakan mengambil kesempatan di atas banyak penderitaan orang adalah hal jahat yang nyata tidak termaafkan. 
 
Mari kita berandai-andai sejenak. Jika nenek Minah adalah ketua DPRD dan melakukan aksi pencurian tiga biji buah kakao, apakah nenek Minah tetap akan disidang dan dijatuhi hukuman bui? Barangkali yang terjadi justru tindakan nenek Minah dianggap khilaf dan tidak diperhitungkan sama sekali bukan? Wong korupsi 31 M saja hanya mendapat hukuman 1 tahun penjara.
 
Sungguh, bukankah praktik penegakan hukum di Indonesia sudah menyadur sistem multilevel marketing yang diharamkan oleh MUI? Semakin tinggi posisimu, semakin menguntungkan nasib yang akan kamu terima, bahkan dalam kondisi paling sial sekalipun, kamu akan tetap beruntung. Dan sungguh sial sekali untuk para “downline” sekalian yang menyandang status rakyat biasa; tidak memiliki backup baik harta, tahta, bahkan sekadar pejabat dalam keluarga.
 
Lalu langkah apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah? Tidak mungkin rakyat terus menunggu munculnya kesadaran dan niat baik dari petinggi negara untuk menegakkan keadilan sesuai Pancasila sila ke-5 bukan? Mungkin pemerintah bisa mulai membuat rumusan UU terkait larangan skema piramida dalam penegakan hukum? Atau... barangkali MUI bisa mulai mengeluarkan fatwa haram untuk skema piramida dan kebijakan MLM dalam penegakan hukum di Indonesia.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

    Pada suatu hari yang cerah, matahari bersinar terang di antara lalu lalang burung terbang. Harusnya, hari tersebut menjadi salah satu hari terbaik yang dimiliki oleh Raisa sampai kemudian ibunya mendatanginya dengan wajah kusut dan menjelaskan bahwa mereka berdua harus segera meninggalkan rumah ini mengingat ia dan sang ayah resmi bercerai. Mengetahui fakta tersebut, Raisa kaget dan tidak terima. Ia tidak mau meninggalkan rumah yang menjadi tempat ia tumbuh bersama banyak memori indah di dalamnya. Sekali lagi ibunya berusaha menjelaskan bahwa keputusan yang diambil sudah bulat dan ini yang terbaik. Sejak saat itu, setiap kali matahari naik memamerkan cahaya kuningnya yang menyilaukan mata, Raisa membencinya.

 
   

Perceraian seperti tragedi menyeramkan yang menjadi alternatif solusi paling dihindari dalam masalah rumah tangga. Walaupun begitu, faktanya tingkat perceraian masih relatif tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, angka perceraian di Indonesia pada tahun 2020 menyentuh 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

            Di balik banyaknya kasus tersebut, masih banyak orang yang sibuk menghakimi keputusan orang tua yang memutuskan bercerai padahal tidak semua kasus perceraian membawa dampak negatif dalam kehidupan anak. Ketika mendengar berita tentang perceraian, pernahkah kamu berpikir bahwa bisa saja sebetulnya baik pihak suami maupun pihak istri sama-sama sudah merencanakan bagaimana selanjutnya kehidupan mereka di masa depan, bagaimana mengajarkan dan menjaga anak ketika mereka sudah tidak hidup dalam satu rumah lagi, bagaimana cara memenuhi kebutuhan sang anak baik secara materi maupun secara psikis?

            Well, perceraian tidak selalu memiliki akhir cerita yang buruk. Justru bukankah hebat ketika pasangan yang memiliki anak menyadari bahwa hubungannya sudah tak lagi sehat dan memang harus diakhiri, maka mereka mengakhirinya dengan yakin dan berani. Banyak sekali kehidupan rumah tangga yang tidak sehat memaksa agar semua terlihat seolah baik-baik saja dan berjalan seperti biasanya dengan alasan kasian anak dan lain sebagainya. Padahal, mereka tidak bisa bercerai karena memang tidak bisa hidup sendiri-sendiri alias sudah terlanjur bergantung pada pasangan.

            Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk bisa hidup secara mandiri tanpa didampingi oleh pasangan lagi. Tidak semua pasangan memiliki keberanian untuk menyudahi hubungan toxic mereka dengan alasan kasian pada anak padahal membesarkan anak dalam kondisi hubungan yang tidak sehat juga tidak baik. Kasus perceraian di Indonesia memang banyak, tetapi masih banyak lagi pasangan yang mempertahankan pernikahan mereka dengan alasan masih bisa diperbaiki padahal jalan satu-satunya yang tersisa hanya perceraian saja. Mari kita apresiasi seluruh keberanian yang sudah dimiliki oleh orang-orang yang kini menyandang status single parent. Mari kita hormati dan hargai keputusan pasangan yang telah resmi memutuskan bercerai. Mereka telah berani menyelamatkan diri dan keluarga kecil mereka dari kemungkinan yang paling buruk.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Ada banyak manusia yang hidup di dunia ini, sebagian memilih menjadi orang hebat sementara saya memilih menjadi bermanfaat.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

Categories

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Februari 2023 (1)
  • November 2022 (1)
  • Juni 2022 (3)
  • Mei 2022 (2)
  • April 2022 (6)
  • Oktober 2021 (1)
  • Agustus 2021 (4)

Created with by ThemeXpose